PROSES UMUM GIS: ALOKASI-SELEKSI-PRIORITISASI

Saat pertama kali berhadapan dengan sebuah lanskap, kita akan mengidentifikasi batas-batasnya kemudian beralih kepenasaranan apa saja didalamnya. Bagaimana struktur dan komposisinya. Apa saja jenis data yang ada atau yang dapat kita kenali. Bagaimana hubungan spasial diantara data itu. Kualitas-kualitas geografi itu kita perinci agar lebih akrab dengan obyek yang dihadapi. Kita pun mengidentifikasi kebutuhan informasi apa saja yang harus dikumpulkan sesuai tujuan. Saat merancang tata ruang, mungkin kita akan mengumpulkan berbagai informasi spasial lanskap yang berkaitan dengan topografi, iklim dan tanah, geologi, kebencanaan dan seterusnya agar bisa mengidentifikasi dimana sebaiknya wilayah untuk produksi sandang-pangan-papan, dimana lokasi industri/perekonomian/layanan sosial, dimana area yang seharusnya diproteksi dan mana saja yang dapat menjadi area kompromi untuk beberapa fungsi yang berbeda. Cara kerja umum GIS tersusun dalam alokasi, seleksi dan prioritisasi.

 

ALOKASI

Alokasi adalah tentang menyediakan kebutuhan data. Alokasi berkaitan dengan sedalam dan sebanyak apa data yang harus dikandung oleh setiap piksel atau obyek dalam lanskap yang ditangani. Tema-tema relevan disusun dan dicari data apa saja untuk memverifikasinya. Semua itu kita gabungkan dalam satu layer atau beberapa layer tematik. Sehingga setiap lokasi dalam lanskap mengandung informasi seluruh tema. Perlu difahami bahwa null atau kosong pun merupakan informasi. Kategorisasi sudah dilakukan namun cenderung lebih kepada karakter alami atau nilai intrinsik data. Ditahap awal ini perlu berhati-hati mengkuantifisir fakta kualitatif atau mengeneralisir data. Nilai satu hektar lahan di Kalimantan mungkin berbeda dengan di Jawa, misalnya. Berhati-hati terhadap peluang mereduksi makna adalah hal bijak.  Jika suatu informasi tidak dapat dikonversi menjadi data spasial, Jika kuantifikasi dinilai sebagai “memaksakan”, simpanlah dalam database. Sewaktu-waktu mungkin dibutuhkan untuk analisis berikutnya. Moral dalam alokasi adalah menyediakan, bukan memilih.

 

SELEKSI

Seleksi adalah prosedur memilih atribut yang dikandung setiap lokasi dalam lanskap (piksel raster atau obyek vektor). Seleksi bisa dilakukan mengikuti kealamian data atau diberi pemaknaan terlebih dahulu dengan pembobotan atau perhitungan tertentu antar tematik layer. Pemilihan dan pemilahan ini akan membagi habis seluruh alokasi kedalam status atau kategori tertentu. Paradigma, teori, tujuan, penguasaan metodologi, tehnik dan ketersediaan teknologi menjadi faktor yang mempengaruhi cara menseleksi. kategorisasi sudah didominasi oleh subyektifitas manusia. Sederhananya, jika alokasi itu tentang meletakkan maka seleksi adalah tentang mengambil. Moral dalam seleksi adalah menyediakan pilihan.

PRIORITISASI

Ini bahasa jargon kaum birokrat namun cukup layak untuk mengatakan bahwa tidak semua hasil seleksi dapat dieksekusi. Beberapa diambil dan sisanya disimpan sebagai rencana. Prioritisasi menggambarkan perbandingan antara daftar pilihan dengan sumberdaya tersedia, atau mungkin juga tekanan dari faktor eksternal. Prioritisasi pada dasarnya sama dengan seleksi. Boleh disebut sebagai seleksi tahap kedua. Yang ingin saya sampaikan adalah:

  1. Tidak semua data bisa diolah dengan mesin GIS. Lack of data disana sini menyebabkan mesin DSS hanyalah utopia. Kita harus jujur menjawab pertanyaan “apakah seluruh variabel data untuk mengatasi suatu persoalan sudah terkuasai sedemikian rupa bisa ditangani mesin anda?”. Misalnya anda seorang analis di suatu dinas di Kabupaten dan berhasil menseleksi daftar desa yang harus diberi bantuan. Apakah anda juga sudah memasukkan kualitas moral kepala desa dan karakter masyarakatnya? padahal moral adalah faktor penentu keberhasilan tujuan diberikannya bantuan.
  2. Ini waktunya informasi yang tidak dapat diolah sebelumnya muncul kembali. Disodorkan dengan cara berbeda kepada manajer, tim expert atau forum partisipasi.

Informasi yang digunakan dalam prioritisasi biasanya berasal dari expert judgement yang menguasai isu-isu seputar permasalahan. Biasanya bersifat khusus, detil, parsial, kualitatif. Mereka mendapatkan dan mengolah informasi tersebut mungkin sama atau berbeda dengan cara yang anda lakukan dengan mesin anda. Mereka menggunakannya untuk menelaah hasil seleksi.

Moral dalam prioritisasi adalah menyediakan keputusan. Anda mungkin akan terkejut ketika manajemen memilih urutan tidak sesuai dengan hasil mesin anda. Atau jika hasilnya sama, mungkin sudah waktunya bagi anda menjadi expert judgement.

* Catatan ini berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan kasus GIS. Entah darimana inspirasi “alokasi – Seleksi – Prioritisasi” ini. Apabila ada rekan-rekan yang mengetahuinya, sudilah kiranya menginfokan agar saya terhindar dari plagiat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: