Memaknai Tutupan Lahan

Tutupan lahan adalah kondisi kenampakan biofisik permukaan bumi yang diamati. Penggunaan lahan adalah pengaturan, kegiatan dan input terhadap jenis tutupan lahan tertentu untuk menghasilkan sesuatu, mengubah atau mempertahankannya. Analisis akan lebih efektif jika data yang dihasilkan dari kedua istilah tersebut digabungkan karena memungkin mendeteksi lokasi perubahan terjadi, perubahan tipe dan bagaimana suatu lahan berubah (Jansen dan Gregorio, 2002). Mengacu sistem klasifikasi penutupan lahan yang dikembangkan FAO, Jansen dan Gregorio (2002) mengidentifikasi 8 kategori utama yang  dikelompokkan menurut area bervegetasi dan tidak bervegetasi sebagaimana pada gambar 1.


lulcjansengregorio

Gambar 1. Delapan Kategori Kelas Penutupan Lahan Berdasarkan Area Bervegetasi dan Tidak Bervegetasi (Sumber: Jansen dan Gregorio, 2002).

 

Badan Standardisasi Nasional menerbitkan SNI nomor 7645:2010 tentang Klasifikasi Penutup Lahan dan SNI Nomor  SNI 19-6728.3-2002 yang menyusun klasifikasi penggunaan lahan sebagaimana disajikan pada Tabel 3 dan Tabel 4. Penggunaan lahan di Indonesia dikelompokkan dalam 3 kriteria yakni: (1) jenis penggunaan (2) Status penguasaan yang mengacu kepada UU Pokok Agraria No.5 Tahun 1960, dan (3) Pola ruang mengacu kepada Kepres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

 

Tabel 3. Klasifikasi Penutupan Lahan menurut SNI 7645:2010

Daerah bervegetasi Daerah tidak bervegetasi
A. Daerah pertanian:sawah irigasi, sawah tadah hujan, Sawah lebak, sawah pasang surut, polder perkebunan, Perkebunan campuran, Tanaman Campuran A. Lahan terbuka:Lahan terbuka pada kaldera, Lahar dan lava, Hamparan pasir pantai, Beting pantai, Gumuk pasir, Gosong sungai
B. Daerah Bukan Pertanian:Hutan lahan kering, Hutan lahan basah, Belukar, Semak, Sabana, Padang alang-alang, Rumput rawa

 

B. Permukiman dan lahan bukan pertanian:Lahan terbangun, Permukiman, Bangunan Industri, Jaringan jalan, Jaringan Jalan kereta api, Jaringan listrik tegangan tinggi, Bandar Udara, domestik/internasional, Lahan tidak terbangun, Pertambangan, Tempat penimbunan sampah/deposit
C. Perairan:Danau, Waduk, Tambak ikan, Tambak garam,Rawa, Sungai, Anjir pelayaran, Saluran irigasi, Terumbu karang, Gosong pantai/dangkalan

Sumber: Badan Standardisasi Nasional, 2010.

 

Tabel 4. Klasifikasi Penggunaan Lahan Menurut SNI 19-6728.3-2002

Klasifikasi penggunaan lahan (tingkat nasional) Klasifikasi status penguasaan lahan Klasifikasi kawasan lindung dan budidaya
1.        Pemukiman2.        Sawah

3.        Pertanian Lahan Kering

4.        Kebun

5.        Perkebunan

6.        Pertambangan

7.        Industri dan Pariwisata

8.        Perhubugan

9.        Lahan Berhutan

10.    Lahan Terbuka

11.    Padang

12.    Perairan darat

13.    Lain-lain

1.     Tanah Negara (TN) : Tanah negara bebas yang statusnya masih dikuasai negara. 

2.     Tanah Negara dibebani Hak (TAH): Tanah yang sudah dibebani hak seperti Hak Milik, Hak Adat, Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Pakai, Hak Pengelolaan. Hak Milik merupakan tanah milik yang telah bersertipikat. Hak Adat/Ulayat belum bersertipikat.

 

Acuan :UU No.5 Tahun 1960 tentang Peraturan dasar pokok-pokok agraria (Lembaran Negara RI No.104 Tahun1960).

1.    kawasan lindung : kawasan yang berfungsi lindung. 

2.    kawasan budidaya : kawasan diluar kawasan lindung yang bisa dibudidayakan.

 

Acuan: Kepres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung

Sumber: Badan Standardisasi Nasional, 2002.

 

Analisis tutupan dan penggunaan lahan merupakan tahapan awal untuk memahami keruangan suatu area atau objek penelitian. Melalui bantuan citra satelit dan tehnik penginderaan jauh, fitur-fitur alami dan antropogenik yang tampak dalam citra diekstraksi, dikelompokkan, dilakukan groundcheck kemudian dianalisis. Menurut Lu (2003) deteksi perubahan fitur permukaan bumi dalam suatu periode waktu merupakan hal penting untuk memahami hubungan antara manusia dan fenomena alam, yang berkaitan dengan menyusun keputusan pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam. Lu (2003) meringkas penggunaan teknologi remote sensing untuk mendeteksi perubahan dalam 10 aspek yakni: (1) land-use and land-cover (LULC) change, (2) Perubahan hutan atau vegetasi (3) Penilaian kerusakan hutan dan defoliasi (4) deforestasi, regenerasi dan pemanenan selektif (5) Perubahan lahan basah/wetland (6) Kebakaran hutan (7) Perubahan lansekap (8) Perubahan daerah perkotaan (9) Perubahan lingkungan (10) Penggunaan lainnya seperti monitoring tanaman, monitoring perladangan berpindah, segmentasi jalan dan perubahan keseimbangan massa gletser dan facies.

 

Penggunaan lahan merupakan isu yang lebih kompleks dibanding penutupan lahan karena memiliki perbedaan fungsi meski pada unit lahan yang sama. Hutan, misalnya, menjadi penyedia kayu, mengatur iklim dan air, mengatur rezim iklim dan air, menyerap karbon dioksida, mempertahankan tanah, menyediakan habitat bagi satwa liar dan menyediakan fungsi rekreasi. Ini menjadi trade-off  diantara berbagai fungsi hutan terutama dalam kajian hubungan ekologi-ekonomi dan environmental accounting (Worldbank, 2003). Beberapa konsep untuk menganalisis penggunaan lahan antara lain Vegetation-Impervious Surface-Soil yang dikembangkan oleh (Ridd, 1995), pendekatan fungsi dan pendekatan aktifitas (Jansen dan Gregorio, 2002) dan pendekatan struktur lanskap yang dikembangkan para ahli ekologi (Garigal dan Barbara, 1995).

 

Ridd mengadaptasi konsep segitiga tanah (clay, silt, sand) dan menyatakan bahwa komposisi spasial tutupan lanskap dapat diklasifikasikan dalam kelas vegetasi, lahan terbangun (impervious surface), tanah (soil) sebagaimana pada gambar 2. Dinamika perubahan lahan menurut VIS merupakan perubahan komposisi diantara ketiga jenis tutupan tersebut. Ridd menyatakan bahwa VIS merupakan framework yang dapat menjadi dasar standarisasi parameter komposisi biofisik urban lanskap. Lebih jauh model VIS dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan dan pertumbuhan kota, analisis impak urbanisasi, menginvestigasi hubungan energi dan air serta beberapa dimensi dari analisis ekosistem manusia di suatu kota (Ridd, 1995).

vis1

Gambar  2. Model Vegetation-Impervious Surface-Soil (Sumber: Ridd, 1995).

 

Jansen dan Gregorio (2002) mengajukan pendekatan fungsi dan aktifitas sebagai cara mendeskripsikan penutupan dan penggunaan lahan. Pendekatan fungsi adalah menggambarkan penggunaan lahan dalam konteks ekonomi yang menjawab tujuan atau untuk apa tanah digunakan. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk deskripsi sektoral penggunaan lahan (misalnya pertanian, kehutanan, perikanan dan lain-lain). Suatu jenis penggunaan lahan dapat digabung meskipun tidak memiliki karakteristik yang bisa tapi melayani tujuan yang sama. Sebagai contoh, jenis penggunaan lahan “pertanian” dapat terdiri dari sawah, tambak dan peternakan. Pendekatan aktifitas menjelaskan apa yang secara aktual dan fisikal suatu lahan digunakan. Kegiatan ini didefinisikan sebagai “kombinasi dari tindakan yang menghasilkan jenis produk tertentu” (United Nation, 1989 dalam Jansen dan Gregorio, 2002). Pendekatan aktifitas mengacu pada suatu proses. Beberapa jenis penggunaan lahan digabungkan dalam satu kelas karena ditujukan untuk aktifitas tunggal. Sebagai contoh, komplek perumahan karyawan perkebunan, jalan dan lahan terbangun lainnya serta lahan perkebunannya itu sendiri  dapat digabung dalam satu kelas pertanian (Jansen dan Gregorio, 2002).

 

Pendekatan struktur lanskap dikembangkan untuk memotret dinamika ekologi yang berlangsung pada suatu kawasan. struktur lanskap terdiri dari komposisi dan konfigurasi yang keduanya membentuk suatu karakter tertentu sebagaimana pada gambar 3. Turner (1990) menyatakan bahwa analisa pola lansekap melalui spasial-temporal analisis dengan memperhatikan variabel diversitas, dominansi dan kontiguitas akan berkontribusi untuk memahami secara umum dinamika lansekap dalam berbagai variasi skala. Struktur lanskap terdiri dari komposisi dan konfigurasi. Komposisi merujuk kepada keberadaan dan jumlah suatu jenis tutupan dan Konfigurasi merujuk kepada  distribusi spasialnya (McGarigal dan Mark, 1995). Analisis struktur lanskap membantu analisis tutupan lahan yang tersaji dalam bentuk grafis ke dalam nilai kuantitatif bentuk (shape) dan ukuran (size) masing-masing tutupan (patches).
polaspasialfragmentasivogtetall

Gambar 3. Karakteristik Struktur lanskap (Forman dan Forman, 1981).

 

Landscape Metric merupakan ukuran kuantitatif yang menjelaskan struktur atau pola spasial suatu lanskap. McGarigal dan Mark (1995) menyusun metric of landscape dalam 65 jenis ukuran yang dikelompokkan dalam 7 Area metrics yaitu: (1) Edge metrics (2) Patch density (3)Patch size and variability metrics (4) Shape metrics (5) Core area metrics (6) Nearest neighbor metrics (7) Diversity metrics. Mc Garigal dan Mark (1995) menyarankan agar penentuan ukuran disesuaikan dengan kebutuhan. Vogth et al. (2007) mengembangkan tehnik analisis fragmentasi melalui parameter Core, Patch, Edge, dan Perforated dimana kelas tutupan yang menjadi titik orientasi adalah kelas hutan (Gambar 4). Perforated adalah piksel hutan yang berada dalam interior patch hutan yang terdegradasi oleh efek tepi. Edge atau tepi adalah piksel hutan sepanjang perimeter hutan yang terdegradasi oleh efek tepi. Patch adalah fragmen hutan yang terisolasi dan tidak tersambung dengan patch hutan lainnya yang terdegradasi oleh efek tepi. Core adalah piksel hutan yang tidak terdegradasi. Luas core disebut kecil jika kurang dari 100 ha, sedang jika 100 – 200 ha dan besar jika lebih dari 200 ha (nilai pembulatan). Lebar Edge bervariasi menurut kajian isu namun berdasarkan literatur ekologi, range mulai dari 50 meter hingga beberapa ratus meter (Vogt et al., 2007).

 

    fragmentasivogtGambar 4. Pola spasial fragmentasi hutan (Vogt et al., 2007)

 bersambung….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: