VEGETATION-IMPERVIOUS SURFACES-SOIL (VIS) Bagian II

Memahami komponen biofisik suatu lansekap dari suatu ketinggian (remote sensing) secara mudah memang cukup membaginya kepada 3 penutupan: Apakah bervegetasi, apakah terbuka ataukah merupakan penutupan oleh bangunan. Impervious Surfaces sendiri sudah menjadi pengetahuan bersama di lingkaran peminat urban planing atau fungsional perencana tata ruang.

Saya belum faham utuh apakah cara berfikir Ridd dengan VIS-nya itu bisa digunakan untuk memandang kawasan konservasi. Namun gagasan ini cukup asyik karena beberapa kunci. Pertama, impervious surfaces mewakili pengetahuan tentang fitur antropogenik alias petunjuk dari hasil kerjaan manusia. kedua, impervious berurusan dengan aliran permukaan dan penilaian lingkungan. Jika tak terkendali bisa celaka sendiri. Kayak Jakarta banjir sendirian padahal di Bogor gak lebat-lebat amat. Meski belum tentu bisa membuka pintu, pas dimasukin ke lubangnya, kunci itu lumayan cocok euy..

 

permisi sebentar, tulisan MK Ridd berjudul Exploring a V-I-S (Vegetation-Impervious surface-Soil) model for urban ecosystem analysis through remote sensingComparative anatomy for cities bisa diunduh disini:

http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/01431169508954549?journalCode=tres20#.Uwnl5fmSxLM

 

Lanjut ya,

Sudah barang tentu kudu hati-hati dengan istilah soil-nya VIS ini  (area bukan vegetasi tapi bukan tertutup bangunan). Di kawasan konservasi ada area bukan vegetasi/hutan namun alami: Danau, sungai, savana Baluran, perairan teluk cenderawasih, Tengger zandzee, blang di TN Leuser, Area yang tampaknya kritis padahal sedang pembelukaran sebagai bagian proses suksesinya dst…

Sekali lagi ini tentang melihat dari jauh dan berusaha mendapatkan informasi indikatif di langkah pertama lewat bantuan citra satelit. Maksudnya, jangan kegeeran menuding kawasan aman sejahtera dengan warna hijau tua dan muda. Yang tampak hijau tua bisa jadi pohon Melinjo dan yang hijau muda bisa jadi gerombolan pisang. Liat aja di THR Carita Banten.

Kemudian dengan gegabahnya saya berandai-andai kalo melihat citra satelit kawasan konservasi, maka komponen biofisik yang mudah saya dapati adalah tiga : (1) Vegetasi, (2) Area terbuka alami, dan (3) Area terganggu. Sisanya saya nyontek gagasannya Ridd.

Dari data tutupan lahan tahun 2009 (http://webgis.dephut.go.id) dan kawasan konservasi, lalu Clip sana, Identity sini, Dissolve sana dan seterusnya, dengan asumsi yang semena-mena saya dapatkan rekap region seperti ini:

Region

persen_vegetasi

persen_terbuka_alami

persen_terganggu

Jawa Bali

61.9

7.0

31.1

Kalimantan

77.5

18.2

4.3

Maluku

90.2

7.2

2.5

Nusa Tenggara

53.5

39.8

6.7

Papua

80.5

17.2

2.3

Sulawesi

80.5

11.5

8.0

Sumatera

77.7

12.6

9.8

 

Lalu setelah dispasialkan, jadinya seperti ini:

VIS_REGION

VIS_KK

KESIMPULAN

Kesimpulan? orang asumsinya aja sembrono koq brani-braninya kesimpulan. Nggak ada kesimpulan, gak brani. Tapi saya beroleh pembelajaran begini:

1. Kondisi tutupan kawasan konservasi di semua ekoregion -kecuali Jawa- masih ada di pojokan bawah. Syukurlah.

2. Variasi sebaran posisi kawasan konservasi di semua ekoregion beragam (nanti saya uplodkan penggerombolannya). Artinya apa ? Jika saya pengelola kawasan, saya tidak akan mau terjebak pseudo-kriteria ketika membuat prioritas, meski diburu-buru sama bos. Atau bertingkah sok sibuk bahwa saya birokrat yg harus bikin keputusan cepat.

3. Lebih baik menyadari ketidakberpengetahuan ini dengan cara rela berkomunikasi kepada orang yang paling mengerti. Biasanya orang-orang seperti itu ada di lapangan atau suka ke lapangan.

4. Apa itu pseudo-kriteria ? menurut saya sih, kriteria yang dibangun untuk bikin prioritas/keputusan dengan pengetahuan umum yang belum tentu benar atau bermanfaat. Misalnya: apakah Taman Nasional atau bukan. Apakah kawasan itu “terikat” dengan konvensi internasional atau tidak? apakah ukurannya besar atau kecil? apakah eko-region sudah terwakili ?

5. Pembelajaran trakhir, sehebat apapun Desktop RS-GIS, konkretnya ada di lapangan. Jadi, jangan habiskan resources di desktop.

 

terimakasih untuk Kang Dinda dan Mas Doni untuk Gap Analysisnya (inspiratif euy, kapan ngegap lagi ?). Terimakasih Mas Judin Purwanto. Terimakasih untuk Bu Luluk, Mas Mursyid, Mas Bayu, Kang Rozak, Mbak Dona dll atas ajaran menghargai data dan pemiliknya.

 

Bogor, 24 Feb 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: