VEGETATION-IMPERVIOUS SURFACES-SOIL (VIS) Bagian I

Impervious surface atau lahan terbangun adalah area yang telah mengalami substitusi penutup lahan alamiah ataupun semi alamiah penutup lahan buatan yang biasanya bersifat kedap air dan relatif permanen. Lahan terbangun meliputi permukiman, bangunan industri, jaringan jalan, Jaringan rel kereta api, jaringan listrik tegangan tinggi, bandara udara dan pelabuhan laut (BSNI,2010). Definisi dari U.S. Environmental Protect on Agency’s Draft Report on the Environment(2003a) adalah: “A hard surface area that either prevents or retards the entry of water into the soil mantle or causes water to run off the surface in greater quantities or at an increased rate of flow. Common impervious surfaces include, but are not limited to rooftops, walkways, patios, driveways, parking lots, storage areas, concrete or asphalt paving, and gravel roads”. Lahan terbangun merupakan fitur antropogenik (struktur/obyek buatan manusia) yang menyebabkan air tidak dapat terinfiltrasi ke dalam tanah sekaligus meningkatkan aliran diatas permukaan tanah. Lahan terbangun merupakan indikator kunci dalam penilaian lingkungan perkotaan (Lu & Weng, 2006). Sejumlah studi memperlihatkan efek negatif dari meningkatnya luas lahan terbangun terhadap morfologi aliran, kualitas air, kesehatan lingkungan. Perdebatan tentang praktek-praktek terbaik mengenai mitigasi efek tersebut semakin komplek dan berkembang (Tilley,2007). However, accurate impervious surface extraction is still a challenge. (Lu & Weng, 2006).

Penggunaan penginderaan jauh dalam meneliti lahan terbangun telah dimulai sejak tahun 1970-an. Slonecker et al. (2001) dalam (Lu & Weng, 2006) mengelompokkan metoda analisis lahan terbangun kedalam tiga kategori yakni : interpretive applications, spectral applications, dan modeling applications. Brabec et al. (2002) dalam (Lu & Weng, 2006) menyimpulkan empat pendekatan untuk mengevaluasi lahan terbangun: menggunakan planimeter untuk mengukur luas lahan terbangun melalui foto udara, menghitung jumlah grid yang berpotongan melalui tumpang susun foto udara, menggunakan klasifikasi dalam interpretasi gambar, dan penaksiran luas lahan terbangun melalui angka urbanisasi pada suatu wilayah. Lu & Weng (2006) menjelaskan bahwa riset-riset dalam rangka mengekstrak informasi dari fenomena lahan terbangun sudah maju melangkah pada klasifikasi data citra per piksel, klasifikasi sub piksel, model pohon keputusan, kombinasi fraksi citra high-albedo and low-albedo (Weng,2010) dan kemantapan relasi antara lahan terbangun dan penutupan vegetasi. Namun demikian Lu & Weng (2006) mengatakan bahwa pendekatan dan mengenai lahan terbuka masih menjadi tantangan karena kompleksitas/heterogenitas di perkotaan/pinggiran kota serta keterbatasan resolusi spasial dan spektral citra.

Pada tahun 1995 M.K. Ridd dari center for Remote Sensing and Cartography and the University of Utah Research institute, Salt Lake City, Utah, mempublikasikan makalah berjudul “Exploring a V-I-S (vegetation-impervious surface-soil) model for urban ecosystem analysis through remote sensing: comparative anatomy for cities”. Ridd mengajukan cara baru untuk memahami karakter dan komposisi ekosistem perkotaan melalui rasio gabungan dari tiga endmembers utama : vegetasi, lahan terbangun dan tanah. Melalui tiga komponen ini Ridd memperlihatkan bagaimana penginderaan jauh dapat digunakan untuk area perkotaan yang luas dan memecahnya dalam suatu komposisi. Bahkan beberapa kota yang berdekatan dapat digambarkan dengan model yang sama (Gaw, 2013). Ridd menyatakan bahwa Vegetation-Impervious surface-Soil (VIS) dapat menjadi dasar standarisasi parameter komposisi biofisik lingkungan perkotaan. Lebih jauh model VIS dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan dan pertumbuhan kota, analisis impak urbanisasi, menginvestigasi hubungan energi dan air serta beberapa dimensi dari analisis ekosistem manusia di suatu kota (Ridd, 1995).  Namun demikian Model VIS hanyalah tahapan framework. Sejak publikasinya lebih dari 18 tahun, kemampuan komunitas SIG dan penginderaan jauh untuk menganalisis dan menggambarkan kondisi urban dan non urban secara remote platform masih belum cukup sempurna (Gaw, 2013).

VIS seperti halnya konsep diagram segitiga sand-silt-clay yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi tekstur tanah, merupakan komposisi spasial lansekap perkotaan yang   yang menghubungkan komponen vegetasi, lahan terbangun dan tanah dalam bentuk diagram segitiga (Ridd,1995).

vis1

sumber gambar: Ridd,1995:2168,2173.

Lingkungan perkotaan adalah area yang amat heterogen secara spasial maupun spektral sehingga membawa kepada problem umum bidang penginderaan jauh yakni mixed pixels. Mixed pixel adalah sel raster yang mengandung lebih dari satu kategori land use/land cover pada suatu permukaan tanah (Hung, 2009). Lu & Weng (2006) menjelaskan bahwa konseptual VIS dapat diimplementasikan dengan menggunakan tehnik linear spectral mixture analysis (LSMA) yang mendekomposisikan nilai reflektan kedalam suatu proporsi yang berbeda. LSMA dianggap sebagai tehnik berbasis pengolahan citra yang akurat dalam mengekstrak informasi kuantitatif hingga tingkat sub piksel ((Smith et al., 1990 dalam Lu & Weng, 2006). LSMA sebagai tehnik yang efektif menangani problem spektral mixture banyak digunakan pada berbagai bidang dan kasus seperti pemetaan tipe penutupan lahan atau studi perkotaan. Karena lahan terbangun berkaitan erat dengan pola penggunaan lahan, penggunaan tehnik LSMA memberikan dapat membuka jalan untuk membangun klasifikasi penggunaan lahan di perkotaan.

Rujukan

Gaw, Caleb Emir, 2013, Applications of Urban Modeling Using Vegetation-Impervious Surface-Soil and Linear Spectral Mixture analysis in Non-Western Counties (Thesis), Fairfax, VA: George Mason University.

Badan Standardisasi Indonesia, 2010, Klasifikasi Penutup Lahan SNI.7645:2010. Didownload di http://www.bakosurtanal.go.id/assets/download/sni/SNI/15.%20 SNI%207645-2010%20Klasifikasi%20penutup%20lahan.pdf Tanggal 25 November 2013.

Hung,Ming-Chih,2009,Describing Urban Land Covers Using the V-I-S(Vegetation-Impervious Surface-Soil) Model:Modeling Salt Lake City, Utah Metropolitan Area,Journal of Geographical Research No.50, May 2009:67-92.

Lu, Dengsheng, Qihao Weng, 2006, Use of impervious surface in urban land-use classification. Remote Sensing of Environment 102(2006):146–160.

Ridd, Merrill. K., (1995). Exploring a V-I-S (vegetation-impervious surface-soil) model for urban ecosystem analysis through remote sensing: a comparative anatomy for cities. International Journal of Remote Sensing, 16: 12, 2165–2185.

Tilley, Janet S. , E. Terrence Slonecker, 2007, Quantifying the Components of Impervious Surfaces,U.S. Environmental Protection Agency.

Weng,Qihao (editor), 2010, Remote Sensing and GIS Integration:Theories, Methods, and Applications,McGraw-Hill Companies, Inc.

Chester Brown, Ed the Happy Clown, dibaca untuk pengusir suntuk :)))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: