MUSEUM KONSERVASI : Mendokumentasi Pewarisan Nilai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di markas PHKA-Dephut, Juanda 15 Bogor, ada ruangan kecil di lantai 2 gedung belakang.  Tadinya adalah kantor Subdit Pemolaan dan Pengembangan Dit. KKBHL mulai tahun 2006.  Ruangan ini menjadi tempat menumpukkan arsip setelah disuruh pindah ke Gedung yang hebat, Manggala Wanabhakti. Di Ruangan ini 5 meja digabung agar bisa menjadi tempat rapat. Ada 2 flipchart, 1 papan tulis, infocus dan perpustakaan mini yang diusahakan multidisiplin. Tidak lupa kotak amal tidak terpakai yang kami gunakan untuk sekedar celengan.  Ini vital mengingat kami semua mengenal sindrom akhir

bulan. Diisi seribu-5ribu perak. Pernah juga beberapa kali 100ribu. Uangnya dibelanjakan apa saja. spidol, foto kopi, laminating, air mineral, gorengan dan tentu saja bensin dari warung depan Kang Ende bernama  kopi. Bukankah pekerjaan ini butuh bahan bakar ?

 

MUSEUM KONSERVASI : Gagasan yang tidak muluk

Perlu diingat, konsep National Museum History termasuk yang mengawali gerakan konservasi memasuki abad 20. Karenanya gagasan museum konservasi Indonesia seharusnya tidak rumit, tidak perlu pake rapat lama-lama.  Apalagi jika dimulai dari yang kecil, yang mungkin dan bisa  dilakukan.

Kami banthingan 50ribu ditambah saldo kotak amal 13ribu perak untuk beli styrofoam, cutter, doubletip dan melaminating beberapa foto yang kami print atas kemurahan fasilitas rekan2 di Ruang Keuangan dan kebaikan perempuan-perempuan cantik di Ruang Subag. Evlap PHKA. Saya harus sebut cantik karena istri saya kerja disitu (atas saran Pak Pandji foto istri saya tidak ditampilkan karena tidak termasuk kategori obyek museum). Dengan demikian kegiatan ini berhak diklaim oleh Kementerian Kehutanan karena didanai DIPA.

Sebagai awal, dinding di Ruangan ini nantinya ditempeli foto-foto penting konservasi yang diperoleh dari literatur lama dan internet. Kami susun tematik menurut tahun,  isu atau tema lain yang kami susun seenak hati kami saja. Termasuk nantinya ada kartun atau karikatur konservasi. Yang penting Fun !!!

pragmatisme birokrasi dan budaya penyelenggaraan negara mengutamakan administrasi keuangan, sangatlah mungkin terperosok pada jebakan penentuan prioritas yang keliru dan mengaburkan substansi kerja konservasi. Sebuah rencana penting menjadi urung oleh alasan kesulitan mengurus adminsitrasi keuangan.

Museum Konservasi bukanlah tentang romantisme masa lalu. Ini adalah kerja mendokumentasi pewarisan yang dilakukan para pendahulu untuk digunakan hari ini. Beberapa jawaban atas problem konservasi saat ini ditemukan di masa lalu dan kami sudah buktikan itu. Berani jamin deh..

 

 

 

Adalah Pak Pandji Yudistira yang mengabdikan energi barunya setelah pensiun 2 tahun lalu sebagai Kepala Bidang Wilayah III Ciamis BKSDA Jawa Barat. Bersama dengan Kang Wahid, Pak Kusnadi, Bu Elvi dan Mbak Dian yang bahu membahu membantu merapikan arsip, mendokumentasikan catatan-catatan penting, memfotokopy,  dan menjaga agar ruangan tetap bersih dan nyaman. Ada pula Mas Eki dan Bu Ning yang berjasa memfasilitasi perjalanan dinas. Dengan cara itu uang lumpsum dapat disisihkan demi biaya memfotocopy dan menerjemahan naskah-naskah lama. berapa’lah uang pensiunan.

Pak Panji, dengan keseniorannya, kerendah-hatiannya, intensitasnya, telah membawa spirit dan inspirasi untuk menggunakan sejarah sebagai pisau analisis dalam aksi pengelolaan kawasan konservasi []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: