Manajemen Informasi RBM

SeMARt = Sistem Informasi Manajemen Resort

Semar atau Smart begitu saja muncul sebagai nama saat membuat prototype SIM untuk mendukung manajemen data RBM. Prototype yang dibangun untuk menyampaikan desain konsep seperti apa SIM RBM kepada Tim Pengembang Aplikasi. Konsepsi Semar, tokoh rekaan asli indonesia beserta gunungan/kayon begitu mempesona dalam konteks gagasan besar konservasi. Entah dicari-cari atau tidak, memiliki keterkaitan gamblang tentang kosmologi hubungan manusia dengan alamnya. Kiranya deskripsi tentang itu bisa dibaca di banyak situs. Pake nama SIM RBM kan kata Manajemen-nya diulang dua kali. Aneh dan mengundang protes. SEMAR jelas nama yang sangat Indonesia (meski ada yang berpendapat itu serapan dari kata Arab, Tsamar=buah). Dengan merubah huruf E menjadi huruf-i kecil jadilah SiMAR alias Sistem Informasi Manajemen Resort. Agar memenuhi aspirasi sebagian yang masih senang nginggris, bolehkan ditambahkan huruf –t diakhir menjadi SMARt yang berarti cerdas. Jujur, rasanya koq lebih mudah untuk bilang SEMAR. Tapi sudahlah, soal keputusan nama biar dikeroyok rame-rame saja.  Sementara ini kita sebut aja SIM-RBM

Gagasan SIM (Sistem Informasi Manajemen) tidak lepas dari konsep RBM yang mensyaratkan fakta lapangan untuk memenuhi kebutuhan perencanaan dan pembuatan keputusan. Contoh yang paling cocok adalah Blanko DK yang digunakan para mandor Perhutani dalam pengelolaan hutan Jati di Jawa. Data benar-benar berasal dari lapangan, bukan rekaan di atas meja. Meski demikian beberapa jenis data seperti sebaran infrastruktur, akses masuk dan luas area terbuka dapat diperoleh lewat interpretasi visual citra satelit. Terdapat juga sumber data yang berasal dari proses lanjutan seperti register perkara atau informasi pelaku pelanggaran.

Tidak semua pengelola kawasan konservasi dalam kondisi siap untuk implementasi. Tapi yang penting berkomitmen. Toh Tuhan pun bikin alam ini pake 6 tahapan waktu. Pelan-pelan’lah. Kalo belum ada uang bayar konsultan, ya pake Ms-Excel dulu’lah. Talleysheet dibikin sesuai keperluan. Diprint lalu difotocpy banyak.  Sementara nunggu ongkos jalan ke lapangan, ngumpul bikin sketmap alias pemetaan partisipasi. Sukur-sukur kalo punya citra resolusi tinggi yang bisa dipelototin rame-rame. Pake GoogleEarth juga ga papa. di-printscreen, diprint, disambung-sambung karna blom punya ploter terus rame-rame dicorat-coret. Seru ! apalagi ada kopi dan penganan hasil banthingan. Yang penting, tadinya cuma satu orang yang tau jadi semuanya tau. Sebaran infrastruktur, titik-titik gangguan dan potensi  sudah bisa diketahui koordinatnya dan bisa dibikin peta tematiknya.

Sambil nunggu ongkos ke lapangan, yang muda bisa tanya-tanya ke seniornya. Apa saja kisah yang dia ingat, lalu dicatat. Disetorkan sama tim database untuk dibikin ringkasan. Atau rame-rame bongkar lemari arsip. Ngumpulin semua semua laporan yang pernah dibuat. Dibaca, direkap, dibikin kronologi. Para mitra yang mungkin karena alasan entah apa, sungkan mendekat ya didekati. Diajak diskusi dan sharing karena pastinya mereka pun punya pengetahuan penting untuk kawasan.  Sukur-sukur ada programnya yang beririsan. Bisa saling bantu. bagi-bagi pengetahun, metodologi dan rejeki. Punya kenalan banyak kan rejeki namanya.

SIM RBM didisain sudah menghitung kondisi minimal. Talleysheet standar dibikin untuk diobrak-abrik sesuai kebutuhan masing-masing karakter dan keunikannya. Talleysheet menjadi alat merekam fakta lapangan. Keuntungan talleysheet memang sudah nyambung dengan aplikasinya. Tapi sumber data input tidak hanya talleysheet. Dalam kondisi minimal, kajian desktop akan lebih mewarnai. Seperti disebut diatas, data bisa berasal darimana saja. Yang penting ada tim database yang ngolah dan menyajikannya di Situation Room. Semua bagian di organisasi pengelola kompak menyalurkan data kepada tim database. dan, ini yang paling menentukan mengingat karakter patrimonial khasnya kita, unsur pimpinan mengawal dan menjadi bagian dalam jalannya proses ini.

Manajemen Informasi RBM tampaknya unik karena dalam diskusi pengelolaan kawasan konservasi, kerap dipisahkan dari kata kelembagaan. Padahal jelas-jelas bagian darinya. Apalagi didalamnya ada protokol alias paket sopan santun aturan main berinteraksi antar orang-orang, orang-sistem dan sistem-sistem (Nah, ini kan kisah ttg pranata alias institution ya ?). Barangkali manajemen informasi adalah penguji, apakah investasi anggaran, SDM dan sarana-prasarana mubazir atau tidak. Menghasilkan aksi atau tidak. Apakah GPS yg dibeli banyak-banyak itu memproduksi waypoint atau tidak. Apakah ploter yang mahal itu menghasilkan peta kerja resort ?  Apakah staf muda yang disekolahkan itu kembali mengabdi atau desersi ? dst…dst…

RBM jelas bukan soal  manajemen informasi, apalagi hanya sekedar aplikasi komputer. RBM tidak sekedar mengumpulkan data. Masih ada hal penting lainnya semisal anggaran, SDM, sarana prasarana yg suka diringkas dengan kata kelembagaan.  Bahkan RBMnya sendiri adalah tool alias bukan tujuan.  Kata kunci ada di pengelolaan efektif kawasan konservasi yang sedemikian rupa memberi manfaat.

Namun, sebelum naik ke lantai 4, 5, 6 dst,  tentu ada lantai 1, 2, 3.  Problem dasar data ini harus dilampaui dulu. Atau, bagaimana kalau kita buang kata database, Manajemen Informasi, spasial dari RBM entah dalam event workshop ataupun implementasi.  Mudah-mudahan sih bisa langsung masuk isu leadership.

…Mari kita lakukan berurut  []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: