Pak Hilal dan Pak Marlan : Man Behind the Data

Di sudut meja tempat scaner ukuran kertas A4 diletakkan, Pak Hilal (52 th) dengan cermat menghitung dan melipat peta CagarAlam Lembah Harau seukuran A3 agar hasil scan mengandung sisi overlap. Bidang overlap itu mutlak dibutuhkan untuk proses penyatuan di aplikasi pengolah gambar. Biasanya butuh 6 kali siaman untuk peta ukuran A2 atau 4 kali untuk A3. Lipatan-lipatan lapuk peta tua berangka tahun 1932 itu dengan hati-hati dirapikan. agar robekannya tidak bertambah besar. Sejelek apapun peta itu, gambar didalamnya amat berharga. Saksi absah ditunjuknya sebuah kawasan konservasi di Sumatera Barat bernama natuurmonumenten Harau Kloof 77 tahun silam.

Dengan hati-hati Pegawai senior di Subdit Pemolaan PHKA Kemenhut menekan cover penutup scaner agar peta tersiap rata demi meminimalisir bias. Kemudian file raster itu diberi nama sesuai judul peta dan disimpan dalam folder yang disusun sistematik. Semuanya berlangsung metodis. Tidak jauh di meja sebelah Pak Marlan (56 th) serius memicingkan mata menelusuri baris-baris spreadsheet MS-Excel. Mengupdate record-record baru dan mengedit teks yang dianggap perlu diperbaiki. Mengecek nomor dan tanggal SK dan menghitung kembali data-data luasan hektar.

”Ayo makan duluuuu….” tiba-tiba Wahid, pramu kantor yang sedang menunggu SK PNS-nya muncul dengan setumpuk rantang katering. Tapi tampaknya mata Pak Marlan masih terpaku dengan layar monitor. Sementara Pak Hilal, sambil menunggu sapuan sensor optik scan rampung, lebih memilih menghisap penuh Sampurna kretek. Seperti rantang-rantang itu, pekerjaan ini memang layak dinikmati.

Ada ratusan dokumen sejenis –SK dan peta- yang berkondisi sama dan menuntut perlakuan serupa. Peta-peta itu dihimpun dengan berbagai cara. Kiriman dari kantor UPT Balai KSDA dan TN, pinjaman dari Badan Planologi, atau hasil mengcopy dokumen di daerah yang diperoleh saat turne dan berburu arsip di Dinas Kehutanan Provinsi dan BPKH. Tidak jarang ditemukan juga dari tumpukan arsip lama. Seluruh proses itu berlangsung tahunan. Dicatat satu demi satu. Diperiksa lagi, dihitung lagi, diupdate lagi. Beberapa record dihapus atau ditambahkan. Demikian berulang-ulang selama sekian tahun. Apalagi mesin scaner baru hadir beberapa tahun belakangan. Menyimpan file elektronik dokumen tua lewat scaner adalah ide sederhana namun langkah penting bagi sejarah basisdata kawasan konservasi. Dan yang lebih utama, itu tidak sekedar ide, tapi betul-betul dikerjakan. Barangkali yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang yang berkantor di Juanda 15 Bogor atau Gedung Manggala Wanabakti adalah semua itu dilakukan oleh Pak Sumarlan dan Pak Ahmad Hilal Djamil.

Baik Pak Hilal maupun Pak Marlan, keduanya banyak menyimpan kisah behind the scene sejarah terjadinya suatu kawasan konservasi. ”Waktu itu sudah sore dan kami diburu-buru segera menyiapkan peta perubahan luas TN Lorentz. Ditungguin Pak Dirjen katanya. Ya sudah, kami kerjakan semampu kami…” demikian kisah Pak Marlan saat menceritakan mengapa luas dalam narasi SK Penunjukan TN Lorentz tidak sama dengan luas yang tercantum dalam peta. ”Dulu, peta itu kita hitung luasannya manual aja. Dijiplak dulu di kalkir lalu diitung pake kertas milimeter blok. Kadang pake planimeter juga” tutur Pak Marlan. Dengan peralatan dan penguasaan kartografi saat itu,  Pak Hilal dkk harus menarik garis delineasi batas dan lahirlah konsep peta TN Gunung Leuser di tahun 80-an. Kedua orang ini adalah kamus berjalan. Mereka tidak sekedar hafal luasan hektar tapi juga ingatan fotografik bentuk garis batasnya dan kisah dibaliknya. Hal yang tidak mungkin bisa dikuasai jika tanpa dedikasi atau sekedar bekerja mengikuti rutinitas.  Jauh dari hiruk pikuk dunia selebriti konservasi atau ke luar negeri hanya untuk sekedar lokakarya, mereka berdua bekerja menghasilkan karya berupa data kawasan konservasi. Pak Marlan dan Pak Hilal boleh jadi tidak akrab dengan seluk beluk tehnik terakhir bernama GIS dan Sistem Informatika namun kerja panjang yang telah mereka hasilkan selama ini merupakan material berharga bagi pembangunan database saat ini.

Bekerja sama dengan mereka berdua memberikan pengertian baru tentang Sistem Informasi atau bahkan kerja akademik. Bahwa : Tidak ada klasifikasi Operator-Programmer-Analis. Yang ada adalah mereka yang memiliki data dan mereka yang mengoperasikan tool atau metode yang memang sudah tersedia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: