DIJITASI OTOMATIS JALAN SUNGAI DENGAN ARCSCAN

Gara-gara bang Jones Gabert saya jadi belajar. Melakukan dan menikmatinya. Kawan kita ini PNS di Kab. Tapanuli Utara yang sedang jadi mahasiswa Perencanaan Wilayah dan males lihat judul tesis itu-itu juga. “Bosan awak lihatnya. Ndak terpakai di pekerjaanku nanti. Mending aku buat gimana caranya nentukan prioritas pemeliharaan jalan”. Lalu dia ngajak ngobrol saya sambil menunjukan peta vektor jaringan jalan yang rumit, banyak, dibikin pake autoCAD. “Semalam aku pusing, cem mana ngolahnya”. Begitu dibuka, C#uk^m41 !!! Tak mampu awak rektifikasi..!! (koq saya jadi ikut2an yah?). “Selain TUDA, ndak adakah TUDP ?” Maksudnya Taput Dalam Peta. “Ah mana ada kulihat itu” timpalnya sambil memainkan iPhone kesayangannya.

Lalu saya inget jurus warisan Mas Rio, GISer KSDA Kupang yang pake Universal Maps Downloader (UMD). Okeylah, saya coba. Gini lay..

Langkah 1. UMD

Pertama, saya harus tahu batas koordinat latitude longitude Kanan atas dan kiri bawah Kab. Taput. Kalo ini saya yakin kita sudah pada tau caranya. Angka itu akan kita inputkan ke UMD.

1

Langkah 2.  SOTOSOP

Mari kita rapikan gambar itu di Photoshop. Tujuannya : Membuat warna jalan menjadi hitam dan sisanya putih semua. Tentu saja tidak akan sempurna hasilnya. Jadi bersabarlah dalam bekerja. Kita suka berfikir sesat dengan merasa gagah kalo pake metodologi yang aneh2 itu. Ingatlah satu hal, dalam pekerjaan riset, DATA’lah Tuhanmu. Maksudnya, kalo pun datanya bohong, berbohonglah secara serius.

Mari buka sotosop, mari buka gambar *.BMP hasil sedot UMD, mari kita hitamkan garis jalan, mari kita putihkan sisanya pake tool REPLACE COLOR (saya pake sotospo 7, tool ada di Menu ImageàAdjustments à Replace Color…)

2

  1. pilih warna dengan Eyedroper tool yang kayak pipet itu.
  2. Lightness, geser full ke kanan jadi putih, ke kiri jadi item.
  3. Add to sample, pake ini untuk nambahin warna yang laen.

Amati dulu warna-warna itu sebelum menyusun skenario menghitam-putihkan tema/obyek gambar. Atur-aturlah kontrasnya dulu agar warna garis jalan itu beda maksimal sama yang laen. Jangan berharap hasilnya sempurna. Anda mungkin masih harus menghapus manual sisa “kotoran” warna yang bukan jalan. Sudah ? Simpanlah hasilnya.

Ctt:

 Saya membiasakan menyimpan dgn nama yg lain dan tidak lupa mengcopy file BMPW-nya dengan nama copy-an yang sama. Jadi saat dibuka di aplikasi GIS gambar itu tetep berreferensi koordinat.

Satu lagi, ArcScan minta gambarnya itu monocrhome. Banyak cara untuk itu. Tapi saya suka pake MS-Paint aja. File gambar itu saya buka lalu save as Monochrome Bitmap. Iyain aja kalo ditanya “The color quality might be reduced..

 

Langkah 3. ARCSCAN

Mari buka Arcmap. Panggil tool ArcScan. Tool ini akan aktif jika :

  1. File gambar anda berkualitas monokrom
  2. Ada file vektor polyline dalam keadaan teredit untuk menampung gambar jalan itu jadi vektor jalan. Jadi, buat dulu file bertipe Polyline dengan proyeksi pilihan WGS 84. Lalu klik Start editing.
  3. Sudah ? Di tool ArcScan itu klik menu Vectorization à Generate Features…

Saya kira setengah batang rokok cukuplah untuk menunggu.

Semoga bermanfaat.

 

 

Tips Imut delete Field di Arcmap

Sering kita direpotkan dengan field yang banyak akibat merge layer sekian provinsi yang tipe fieldnya beda, atau hasil konversi klasifikasi object based atau tool fragmentasi, lalu kita memutuskan tidak memerlukan beberapa field itu. Hapus satu persatu terkadang butuh waktu lama atau malah nge-hang karena kebetulan recordnya ratusan ribu. Yawdah panggil “delete field” aza kayak gambar berikut ini…

semoga berfaedah…

delete fields

 

 

PREDIKSI PERUBAHAN LAHAN, IDRISI dan Modul CA Markov

Konon katanya perubahan lahan itu bisa diprediksi dengan 2 data interpretasi citra berbeda tahun (baiknya ditambah satu lagi untuk sandaran cari nilai kappa yang ok). Saya tentu saja awam.  Daripada salah jelasin, mending silakan melongok ke https://forums.clarklabs.org/entries/21816678-Cellular-Automata-using-Idrisi atau http://uhaweb.hartford.edu/gatetutor/idrisi/specsa2z.html. Saya hanya cerita step by stepnya saja. Mohon para suhu mengkoreksi apabila ada kekeliruan.

Saya pake data landsat tahun 1992 dan 2001 (selisih 9 tahun, angka ini nanti dipake dalam penghitungan matriks transisi) untuk kecamatan Rangkasbitung Banten. Dengan sembarangan dijit di ArcGIS, saya dapatkan shapefiles dengan kelas tutupan 3 saja: area terbuka, vegetasi dan sungai. Koq gitu sih? biar ajalah yang penting dapat contoh data. Sengaja biar tak banyak mengetik, saya sajikan dalam gambar. Tapi sebelumnya, ada syarat yg harus dipatuhi: (1)  Jumlah dan nama kelas musti sama. Usahakan juga FID untuk id kelas agar sama (bisa aja sih nanti dibetulin di IDRISI) (2) Awan ga boleh ikut. Apapun caranya. Ini kan prediksi lahan, bukan prediksi awan hehehe.

 

1. Ini persiapan datanya :

m1

 

2. Jalankan IDRISI, konversi kedua shapefiles tutupan lahan menjadi file vektor IDRISI (format *.vct).

m3

 

 

3. konversi 2 file vektor IDRISI hasil import itu menjadi raster  IDRISI (format *.rst).

m4

 

 

4. Ini hasilnya. Yang atas itu file vektor idrisi dan yang bawah file rasternya.

m5

 

5. Menjalankan modul Markov untuk membuat file transisi estimatornya. Apa itu ? hehehe mangga dihaturan calik di https://forums.clarklabs.org. Aing mah teu wasa. di modul ini akan dihasilkan koleksi file (*.rgf) yang berisi kumpulan file gambar sesuai jumlah kelasnya.

m6

 

6. Menjalankan modul CA MARKOV. Nah tahapan ini akan menghasilkan peta yang menggambarkan prediksi perubahan lahan. Terserah mau memprediksi sampe berapa tahun ke depan. Tool ini akan membantu kita dalam merencanakan tata ruang atau penataan zonasi atau apapun kreatifitas kita saat mengekstraks informasi dari gambar yang dihasilkan atau tujuan awal melakukan ini. Atau mengkonversi lagi ke vektor dan melakukan kalkulasi lanjutan untuk tujuan berikutnya ? mangga.


m7

 

Semoga berfaedah.

KNOWLEDGE MANAGEMENT (2): Pembelajaran kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur

Dua hal yang terus menerus terfikir saat mengerjakan catatan ini. Pertama, kisah ini harus dituliskan. Kedua, yang paling berhak menuliskan adalah kawan-kawan dari BBKSDA NTT. Karena itu, catatan ini saya persembahkan untuk rekan-rekan BBKSDA NTT. Mohon maaf sebelumnya, saya tidak dapat menyebut semuanya. Beberapa yang dapat saya sebut misalnya Mas Rio Duta dan Mbak Evi RS-GIS officer yang mendevelop tallysheet dan menyediakan peta-peta, Mas Juna yang menyusun profil resort dan juga GIS, Kang Ardi, Bang Nikson dkk yang mengimprove tallysheet, Mas Yosi yang mengembangkan Tallysheet kelautan, Oom Sipri Janggur yang rajin mengupdate kabar via wall FB RBM, Pa Maman, Pa Ora, Pa Dadang, Pa Zubaidi dan jajaran manajemen yang mengartikulasikan policy sehingga bisa dipraktikkan, Dimas Oni yang menterjemahkan konsep pengelolaan informasi menjadi aplikasi, Pak Wiratno sebagai Kabalbes yang memainkan peran formal dan informalnya mengawal jalannya proses. Bagian yang paling mengganggu adalah menjaga fikiran tetap positif agar tidak tergoda mengkritik atau menaruh ekspektasi tinggi terhadap proses yang sedang berjalan. 

 

Kementerian Kehutanan cq. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) telah mengembangkan program Resort Based Management (RBM) dalam rencana strategis 2010-2014. Tujuan program ini adalah mendorong 77 unit organisasi pengelola di tingkat tapak untuk lebih mampu memetakan potensi dan permasalahan masing-masing kawasan konservasi serta mengembangkan nilai manfaatnya. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT) adalah salah satu organisasi pengelola di tingkat tapak yang menangani 29 unit kawasan konservasi seluas 220.527,13 hektar yang tersebar di pulau Timor dan Pulau Flores. Proses implementasi program RBM dimulai sejak bulan April 2012. Catatan ini hanya mencoba memotret beberapa fragmen pembelajaran yang berlangsung di BBKSDA NTT. Tidak mengukur, tidak menilai. Hanya mencatat.

A. RBM

Program RBM digagas untuk merespon banyaknya  kasus  konflik/perambahan  di  kawasan  konservasi    yang  tidak kunjung  terselesaikan, juga karena problem kultur organisasi  mulai  dari  pusat hingga tingkat tapak yang sedemikian rupa  menyebabkan kawasan  menjadi  lebih sering  kosong  tidak  terjaga.  Suhariyanto (2010:71-76)  mendeteksi kultur tersebut dalam  tiga  perilaku  :  Blaming,  Excusing, Justifying diantara para pengelola organisasi. Program RBM menitikberatkan  sasaran  pada:  “kawasan  terjaga,  potensi tergali,  masalah  terpecahkan”.  Isu  kunci  yang  dipasarkan  terrumuskan dalam kalimat sederhana : Kehadiran  di  Lapangan.  Lapangan  menjadi  pusat  orientasi bekerja  dan  konsep  kehadiran  memiliki  pengertian  hadir  secara  fisik  di lapangan dan hadir secara psikis dalam keputusan-keputusan pengalokasian sumber  daya.  Dengan  demikian  komitmen  terhadap  “lapangan”  tidak  hanya tugas  petugas  resort  saja  melainkan  terbagi  merata  di  setiap  lini organisasi.  Dari  seluruh  program  yang  dimiliki  organisasi PHKA,  RBM  adalah  program yang  secara khusus memfokuskan garapannya  pada  Social  capital  resources  dan Konwledge  Management  System (Direktorat Jenderal PHKA, 2013, Meretas Jalan Menuju Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Yang Lestari – Capaian Kinerja Bidang PHKA Tahun 2010-2012. Jakarta).

 

Untuk memudahkan memahami program RBM dalam dalam konteks manajemen informasi, disajikan per point sebagai berikut:

  • RBM merupakan salah satu Indikator Kinerja atau program dalam Rencana Strategis Direktorat Jenderal PHKA Kementerian Kehutanan tahun 2010-2014  yang bertujuan untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi (Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK.18 1/IV-Set/2010).
  • Dalam instruksi Dirjen PHKA, program RBM dilaksanakan melalui 4 hal : Pembentukan Tim kerja, Penguatan Kelembagaan, Penataan Resort dan Pembangunan Sistem Informasi (Edaran Dirjen PHKA No. 295/IV-KKBHL/2011 tanggal 27 Juni 2011).
  • Untuk memudahkan pengelolaan informasi spasial wilayah, dibentuk jaringan data spasial dan Tim GIS-Remote Sensing (SK.Dirjen No. 151/IV-KK/2010 12 Oktober 2010 dan Surat Dirjen PHKA No. S.37/IV-KKBHL/2011 Tgl 31 Januari 2011)
  • Untuk memudahkan pengelolaan basis data terintegrasi didistribusian aplikasi open source (PHP-MySQL), formulir data lapangan dan tutorial berbentuk narasi dan video (Surat Direktur KKBHL No. S.377/KKBHL-1/2012 Tgl 16 Juli 2012)
  • Untuk media komunikasi pembelajaran antar Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibuat situs webforum. Sekaligus juga perintah untuk melakukan inhouse training penggunaan aplikasi database (Surat Direktur KKBHL No. S.422/KKBHL-1/2012 Tgl 8 Agustus 2012)
  • Dalam rentang 2010- 2013 dilakukan 60 lokakarya di berbagai lokasi diikuti peserta yang berasal dari 77 organisasi pengelola tapak dalam rangka memasarkan program sekaligus melatih aspek pengelolaan data (PHKA, 2013).

 

B. BALAI BESAR KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM NUSA TENGGARA TIMUR (BBKSDA NTT)

BBKSDA NTT adalah salah satu UPT atau organisasi di tingkat tapak yang bernaung dibawah Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan. Organisasi ini mengelola 29 unit kawasan konservasi seluas 229.000 ha tersebar di Pulau Timor dan Pulau Flores mulai dari ekosistem laut, pantai, mangrove, savana, hutan dataran rendah dan pegunungan. Lokasi kawasan yang tersebar ini memberikan hambatan tersendiri yang berbeda dibandingkan organisasi taman nasional yang wilayahnya kompak dan relatif lebih mudah aksesibilitas dan mobilitasnya. Jumlah personel yang mengelola berjumlah 101 orang. Anggap aja anggaran rata-rata umumnya 11 milyar rupiah per tahun. Maka tiap hektarnya didanai Rp 48.000/ha/tahun. Organisasi ini diharapkan mampu –dalam ketersediaan sumber dayanya- memetakan dan mengelola potensi dan persoalan di wilayahnya.

(Peta sebaran kawasan dapat dilihat di webgis.dephut.go.id)

 

C. PEMBANGUNAN APLIKASI SIM-NTT

Sub bab ini menjelaskan penerapan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) sebagai sarana data repository milik organisasi.

C.1. PEMBANGUNAN KOMITMEN

SIM NTT adalah istilah untuk Sistem Informasi Manajemen  BBKSDA Nusa Tenggara Timur. Proses perancangan SIM diawali dengan membangun komitmen/perilaku seluruh personel terhadap data. Pelaksanaan dilakukan dalam lokakarya dengan sebanyak mungkin personel pada tiap lini organisasi agar persepsi lebih mudah terbangun. Terdapat tiga kunci yang dikedepankan dalam membangun komitmen data, yakni:

  1. Laporan harus terdokumentasikan dan pengumpulannya terpusat di satu terminal
  2. Laporan harus mengandung unsur spasial atau memiliki koordinat
  3. Laporan tidak boleh dipalsu

 

Proses pembangunan komitmen merupakan titik krusial bagi suksesnya implementasi KM sebelum melangkah pada aspek teknis membuat aplikasi SIM.  Prakondisi moral dan kesepakatan cara bekerja diperlukan agar para personel siap menerima dan memahami keuntungan dan konsekuensi. Lebih jauh lagi, komitmen berkaitan erat untuk membangun emotional bonding yang merupakan bahasan tersendiri dalam kajian social capital. Makalah ini tidak ditujukan membahas social capital namun perlu disajikan sekilas untuk menegaskan pentingnya tahapan ini dilakukan. Membangun komitmen kesepahaman dan ikatan emosi diantara personel merupakan investasi utama KM. Dengan kata lain, sosial kapital menjadi salah satu unsur selain teknologi (TIK).

Menurut Hoffman (2005) Sosial capital memfasilitasi berkembangnya modal intelektual kolektif dengan mempengaruhi kondisi yang perlukan agar terjadi pertukaran.  Modal intelektual kolektif ini didefinisikan sebagai pengetahuan. Intelektual capital merupakan kombinasi antara pengetahuan dan pengalaman, sementara itu, penciptaan intelektual terfasilitasi oleh keberadaan sosial kapital. Peran sosial kapital merupakan inti kompetensi dalam pengembangan kreasi pengetahuan (Kogut and Zander, 1996 dalam Hoffman, 2005).

C.2. TAHAP KEDUA: PERANCANGAN SISTEM INFORMASI DAN UJICOBA PROTOTYPE

TIK dalam implementasi KM disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, kesesuaian dengan kompetensi pelaksana dan kesesuaian dengan kondisi dukungan yang ada, misalnya kestabilan akses internet. Perancangan sistem dimulai dengan uji coba form data lapangan (tallysheet) yang dikembangkan secara nasional dalam kesempatan lokakarya. Poin pertama yang ingin dicapai adalah pengenalan alat kerja baru bernama tallysheet sekaligus berlatih bersama menggunakan alat GPS. Poin kedua adalah menjaring pendapat, tanggapan, komplain atas format tallysheet dalam hal bentuk, jumlah, isi sehingga teridentifikasi kebutuhan data. Dalam konsep KM ini merupakan analisa gap pengetahuan pada tingkat pelaksana lapangan. Dalam prosedur pembangunan aplikasi ini merupakan tahapan awal need assesment atau requirement analysis.

Jumlah tallysheet yang digunakan sebanyak 16 tema tallysheet. Dalam proses evaluasi diusulkan membuat tallysheet dengan tema “lainnya” untuk menampung data yang tidak tercover oleh tallysheet sebelumnya.

 

Jenis Tallysheet Lapangan Sistem Informasi NTT

REGISTER

TEMA

Register A Kerusakan Hutan Akibat Pencurian/Penebangan Liar
Register B Kerusakan Hutan (Pohon Tumbang) Akibat Bencana Alam
Register C Perburuan Satwa
Register D Kematian Satwa
Register E Sebaran Satwa
Register F Informasi Sumber Air
Register G Informasi Sandar Kapal
Register H Informasi Pelanggaran
Register I Infrastruktur Kawasan
Register J Akses Masuk Kawasan
Register K Informasi Pendarung
Register L Gangguan Kawasan
Register M Pengamatan Satwa
Register N Obyek Wisata Dan Jasa Lingkungan
Register O Pal Batas
Register P Data Obyek Lainnya
Register Spot Diving
Register Kapal Perikanan
Register Kerusakan Coral
Register Kerusakan Lamun
Register Kerusakan Mangrove
Register Pencemaran Air

*Istilah Register digunakan BBKSDA NTT untuk menyebutkan Tallysheet

** Konsep ini mengadopsi TN Alas Purwo

 

Langkah berikutnya adalah diskusi terfokus dengan kelompok yang lebih terbatas untuk mengidentifikasi kebutuhan terhadap sistem.  Proses ini berlangsung berulang-ulang dilanjutkan melalui komunikasi via e-mail dan telpon. Dialog ini berhasil mengidentifikasi beberapa spesifikasi kebutuhan sekaligus visi aplikasi.

 

Spesifikasi Pertimbangan
Aplikasi berjalan pada platform browser Memudahkan integrasi apabila official website dibangun
Input data bersifat off-line, tidak menggunakan prosedur submit Antisipasi kondisi jaringan internet di Timor dan Flores
Input data menggunakan prosedur attachment file yang dapat dikirim melalui email atau pada kesempatan tatap muka. Antisipasi kondisi jaringan internet di Timor dan Flores
Aplikasi harus dapat berinteraksi dengan Ms-Excel.Aplikasi di tingkat Balai memiliki tool mengimpor file MS-Excel

Aplikasi di tingkat Bidang wilayah memilii tool mengekspor ke file MS-Excel

MS-excel familiar bagi mayoritas personel,Sebagai antisipasi apabila sistem mengalami crash.

Personel bukan operator dapat memanfaatkan dengan mudah untuk proses analisa sesuai kebutuhannya.

Memudahkan proses penciptaan informasi dan pengetahuan baru

Aplikasi merekam nama personel Rentang kendali pengelolaan SDM
Aplikasi wajib merekam data koordinat Seluruh pekerjaan di lapangan mengandung unsur spasial
Aplikasi memiliki fasilitas Chatroom Posisi bangunan kantor yang terpisah-pisah dan mendukung penciptaan emotional bonding
DBMS menggunakan PHP-MySQL Bersifat open source untuk menekan biayaLebih umum digunakan

Dapat dikembangkan untuk visi WebGIS

Aplikasi sementara tidak dikembangkan untuk mendokumentasi data gambar Cukup ditangani dengan sistem folderisasi dalam harddisk. Dengan demikian kebutuhan terhadap foto dapat langsung diakses melalui window eksplorer. Personel bukan pengelola data yang membutuhkan foto dapat dengan cepat mengaksesnya.

 

C.3. PROTOKOL

Konsep protokol ditujukan untuk mengatur relasi antar personel dan personel dengan sistem. Aturan ini umumnya disusun bersamaan dengan pembangunan sistem aplikasi. Dalam kasus BBKSDA NTT hal tersebut tidak dilakukan. Pembentukan protokol berlangsung alami diserahkan kepada proses pembelajaran antar personel.

Pimpinan organisasi BBKSDA NTT pada saat pembentukan komitmen telah memberikan kontak pribadinya kepada seluruh peserta dengan tujuan membuka sekat komunikasi. Bersamaan dengan berlangsungnya proses uji coba, para personel banyak memanfaatkan hotline ini untuk melaporkan langsung berbagai temuan yang dijumpai di lapangan. Laporan ini kemudian dikonfirmasi oleh pimpinan balai ke pimpinan di bawahnya (Kepala Seksi dan Kepada Bidang). Kejadian-kejadian seperti ini telah memicu ketidaknyamanan menurut pandangan hirarki birokrasi. Namun terhadap sistem terjadi blessing in disguise yang memberikan pembelajaran bermakna. Pertama, protokol lahir berdasarkan kebutuhan melalui proses ujicoba. Proses seperti ini relatif tidak lagi memerlukan masa sosialisasi yang panjang. Kedua, organisasi menemukan aturan protokol yang belum dijumpai di UPT lain yakni “informasi bersifat langsung, konfirmasi bersifat berjenjang”. Artinya informasi apapun dapat langsung disampaikan ke pucuk pimpinan namun tetap disampaikan pada atasan di divisi kerjanya. Ketiga, alur data dan alur koordinasi bersifat siklus. Data yang dialirkan ke atas mendapatkan feed back dalam bentuk keputusan-keputusan manajemen.

protokol

D. PETA BERPETAK/GRID DAN PEMETAAN PARTISIPATIF

Minimnya personel yang menguasai keterampilan pemetaan dijital, personel yang terbiasa menggunakan alat navigasi GPS dan keterbatasan akses citra satelit menjadi salah satu penyebab pengetahuan lapangan tidak terdokumentasi menjadi pengetahuan organisasi. Padahal BBKSDA NTT merupakan organisasi pemangku wilayah yang rutinitasnya berhubungan dengan data spasial. Berkaitan dengan persoalan pemetaan wilayah dilakukan dua pendekatan yakni peta berpetak dan sketsa map.

D.1. PETA BERPETAK (SISTIM GRID)

Peta grid ini merupakan pendekatan perencanaan dalam penentuan prioritas alokasi sumber daya atau penetapan target lokasi survey. Petak atau grid menjadi unit sampel dari populasi grid seluruh kawasan. Dalam sudut pandang KM, tehnik ini telah mengatasi keterbatasan komunikasi verbal saat menginformasikan posisi. Nilai koordinat diganti menjadi kode grid peta. Lebih jauh lagi, proses mengalirnya informasi baik yang bersifat tacit maupun eksplicit menjadi lebih lancar. Teknisi GIS BBKSDA NTT telah menyusun layer grid untuk seluruh kawasan konservasi untuk memproduksi peta kerja. Basemap citra satelit diperoleh dari data Webgis GoogleEarth.

D.2. PEMETAAN PARTISIPATIF

Pemetaan partisipatif adalah cara umum yang digunakan dalam suatu proses perencanaan dimana para partisipan umumnya tidak familiar berinteraksi dengan peralatan dan istilah spasial. Terlepas dari ragamnya kompetensi personel BBKSDA NTT terhadap disiplin ini, tehnik partisipatif menjadi tool efektif dan bersifat kolektif. Efektif karena para personel cukup menceritakan pengetahuan pribadinya (tacit) seraya didampingi menunjukkan lokasinya pada peta. Kolektif karena dilakukan bersama-sama sehingga volume pengetahuan pribadi menjadi lebih besar dan secara keseluruhan terdokumentasikan sebagai pengetahuan tertulis (Explisit). Manfaat dari proses partisipatif adalah rona awal kondisi kawasan termasuk sejarah dan peristiwa yang terjadi didalamnya dapat segera diperoleh. Teknisi GIS  dalam proses ini bertindak sebagai notulen GIS. Lokasi yang ditunjuk dan informasi yang disampaikan, dikonversi menjadi data spasial point lengkap dengan data atributnya. Produk ini menjadi awal untuk langkah pemetaan wilayah. Manfaat lain adalah tersedianya forum tatap muka dan dialog informal yang berlangsung cair diantara partisipan yang dapat difahami sebagai investasi kapital sosial.

sketmap

Rangkaian foto yang menggambarkan alur berlangsungnya transfer pengetahuan antar para personel (tacit to tacit) sekaligus terdokumentasikannya pengetahuan tersebut menjadi pengetahuan organisasi (Tacit to explicit). Sumber foto: Pribadi, 2012.

Selain dua hal diatas, upaya pemetaan wilayah dilakukan melalui cara yang umumnya digunakan oleh teknisi GIS-Remote Sensing yakni interpretasi citra satelit landsat yang datanya berasal dari internet. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah membuat peta tutupan lahan/penggunaan lahan pada beberapa seri tahun. Pekerjaan ini dilakukan oleh 3 teknisi GIS-Remote sensing BBKSDA NTT.

lulc evi

Gambar salah satu produk Peta tutupan lahan di TWA Camplong hasil olahan mbak Evi Heryaningtyas, Teknisi GIS-Remote Sensing BBKSDA NTT

 

E. SITUATION ROOM

Situation room BBKSDA NTT dikembangkan untuk menampung hasil lanjutan dari sistem database dan pemetaan. Konsep gagasan mengadaptasi Situation room yang dikembangkan John F. Kennedy di tahun 1961 sebagai evaluasi atas kegagalan operasi di Teluk Babi Kuba (http://en.wikipedia.org/wiki/White_House_Situation_Room). Konsep format mengadaptasi aplikasi CMS (Contain Management System) yang populer dalam pengembangan weblog.  Situation room Gedung Putih AS dibentuk atas dasar “a lack of real-time information”. Adaptasi yang dilakukan BBKSDA NTT meliputi dua pemikiran. Pertama, kebutuhan informasi masing-masing kawasan konservasi yang tersimpan dalam satu portal, terintegrasi, mengandung berbagai jenis tema dan format (foto, narasi, peta, gambar, film, suara). Pemikiran ini melahirkan standar informasi profil kawasan. Kedua, pengelolaan tool situation room menyesuaikan dengan kompetensi SDM yang tersedia sehingga cepat terrealisasi. Pemikiran ini melahirkan prototipe Situation Room yang berbasis hyperlink antar dokumen menggunakan skrip HTML. Spesifikasi Situation Room tidak membutuhkan kemampuan programing komputer kecuali kemampuan menggunakan aplikasi perkantoran (MS-office selain MS-access), mengolah gambar sederhana, dan mengkonversi file multimedia menjadi tipe SWF dan keterampilan kecil membuat hyperlink (right click and hyperlink to procedur).

Situation Room dibangun dalam konsep menyajikan pengetahuan kawasan konservasi seutuh mungkin. Tool KM untuk pembuatan keputusan. Data yang bersumber dari SIM, Pemetaan, dokumen laporan, informasi lisan yang didokumentasikan, arsip-arsip lama yang berasal dari berbagai divisi dan sumber luar diolah dan disajikan didalam Situation Room. Proses penemuan pola, saling menghubungkan antar informasi, pemberian konteks baru, pemberian makna dan penciptaan pengetahuan berlangsung pada saat jajaran pimpinan atau staf yang diberi akses, berinteraksi dengan Situation Room. Keputusan-keputusan dibuat setelah pengetahuan terbentuk melalui expert judgement pimpinan atau expert panel unsur pimpinan yang ada. Konsep Situation Room merupakan solusi terhadap apa statistik yang diajukan oleh Delphi Group mengenai pengetahuan tersebar. Tool ini tidak dibatasi oleh logika struktur database relasional karena bersifat naratif.  Situation Room merupakan tool yang berjalan dalam browser namun bersifat offline atau terbatas akses.

Standar informasi Situation Room untuk setiap kawasan meliputi :

TEMA DESKRIPSI
Profil Menyajikan deskripsi ringkas mengenai kondisi kualitatif-kuantitatif resort baik meliputi key feature, unsur2 SWOT, dll tergantung bagaimana tim menyepakati cara pendekatannya.
Prioritas Pengelolaan Prioritas Pengelolaan merupakan hasil akhir setelah menganalisis semua informasi dan sumber daya yang dimiliki oleh UPT. Menjadi bahan penting dalam menyusun perencanaan anggaran dan strategi pengelolaan yang riil berdasarkan fakta lapangan. disajikan secara ringkas saja dan diperlihatkan dalam peta, dimana lokasi prioritas dimaksud.
Peta Kerja Peta Kerja adalah peta yg digunakan untuk bekerja. Peta yang memuat tema2 standar untuk kebutuhan navigasi misalnya sungai, jalan dan anotasi secukupnya. Peta kerja yg dibawa ke lapangan tidak harus ideal dilayout. yang penting berfungsi untuk navigasi. Berbeda halnya apabila dibutuhkan dalam perencanaan kerja di kantor. Tematiknya mungkin akan lebih lengkap dan kaya.Dalam situasi tertentu atau karena luasannya, dapat saja resort memiliki banyak peta kerja dgn alasan penggunaan skala besar dan detil.
Rencana Kerja RENCANA KERJA atau RENCANA PENGELOLAAN RESORT atau RENCANA KEGIATAN RESORT atau JADUAL PATROLI/SURVEY RUTIN yang disusun bulanan ataupun tahunan (tergantung kemampuan dan kebutuhan), disusun dengan melibatkan kepala dan anggota resort terkait. Kepala Seksi berperan mendampingi proses tersebut, menjadi rujukan dan harus mampu memberikan solusi dalam proses penyusunannya.
Register (Talley Sheet) Pintasan menuju rekap register (16 tema ditambah tema yang dikembangkan masing2 UPT). Setiap halaman register menampilkan informasi dalam bentuk peta (sudah dalam format *.jpg), grafik, tabel, serta informasi lainnya baik dalam bentuk teks, gambar, suara, video. Sedapat mungkin ditampilkan secara cepat, relatif mudah difahami terutama oleh pimpinan.Peta vektor (misalnya *.shp,*.prj,*.mxd, *.kml, *.kmz) yang berasal dari dari konversi titik koordinat data register talleysheet tersimpan dalam folder yang sistematis, diketahui oleh semua anggota tim pengelola data, mudah dipanggil baik untuk kebutuhan analisis maupun penyajian.
Analisis Citra Analisis citra serial adalah tahapan deskop penting yg harus dilakukan diawal. untuk mengetahui sejarah tutupan dalam dan sekitar kawasan. Pemanfaatan data ini bisa bermacam-macam. deteksi lokasi2 terancam, sejarah pengelolaan, penentuan areal rehabilitasi, kebutuhan membangun forecasting lewat modelling tertentu dll
Peta Area Terbuka Peta Area Terbuka atau Perambahan atau konflik kawasan.Peta Area Terbuka merupakan hasil interpretasi pada citra yang kemudian setelah dilakukan groundcheck menjadi Peta Perambahan atau Konflik kawasan.
Peta Kerawanan Peta Kerawanan adalah peta yang menampilkan informasi yang bersifat gangguan baik berasal dari dalam maupun dari luar. informasi dalam beberapa register talleysheet merupakan referensi bagi peta ini. Informasi berupa titik-titik lokasi kerawanan sudah cukup.Pada Kondisi minimal, dimana banyak lokasi belum didatangi/teridentifikasi sehingga data belum cukup terkumpul, maka pendekatan menggunakan metodologi tertentu meski masih bertumpu pada data sekunder, akan sangat membantu (Tumpang susun beberapa tematik peta, menghitung beberapa variabel, pemetaan bersama, FGD, skoring & pembobotan) .
Peta Potensi menyajikan peta potensi baik didalam maupun diluar. Dapat ditambahkan Paparan deskriptif profil potensi kawasan
Daerah Penyangga Berisi penjelasan ringkasan mengenai daerah penyangga, sebaran desa sekitar, kondisi landuse, sebaran desa sekitar kawasan, aksesibilitas, peta penggunaan lahan dan sebaran infrastruktur didalam dan diluar kawasan
Kasus Menyajikan informasi berkaitan dengan kasus yang terjadi didalam kawasan
Pengukuhan Menyajikan informasi status dan perkembangan pengukuhan kawasan
Pemantapan Menyajikan informasi status dokumen Rencana Pengelolaan dan penataan areal kerja/blok/zonasi
Dokumen Kawasan Menyajikan scan dokumen pengukuhan kawasan
Personil Berisi komposisi petugas fungsional, data diri dan foto personil resort, yang bertugas untuk resort/kawasan yang bersangkutan, termasuk personil pendamping resort/kawasan ybs yang bertugas di Balai/Bidang (PEH/Polhut/Penyuluh).
Sarpras Menyajikan peta infrastruktur dan aset milik organisasi termasuk sebaran infrastruktur di sekitar kawasan
Kronologi Menyajikan rekap kronologi per kasus, terutama dokumentasi nomor surat-surat koordinasi
Dokumentasi Hasil Kajian Berisi list dokumen/judul karya tulis hasil kajian, monitoring, riset dll.
Kemitraan Menyajikan informasi yang berkenaan dengan kerjasama dengan mitra atau lembaga lainnya
Lainnya Penyajian informasi yang tidak berkaitan dengan tema-tema sebelumnya

sitroom

Gambar interface Situation Room BBKSDA NTT. Merupakan Tool TIK untuk KM dimana seluruh pengetahuan organisasi tersimpan dalam server kantor dan notebook Pimpinan (Sumber: BBKSDA-NTT, 2014)

 

F. INOVASI LAINNYA

Beberapa inovasi yang dikembangkan oleh organisasi BBKSDA-NTT yang secara kesuluruhan merupakan upaya membangun basisdata dan pemetaan berbagai fitur dalam kawasan konservasi adalah membangun konsep flying team. Flying team merupakan tim yang terdiri dari personel dari berbagai divisi yang secara khusus ditugaskan membantu personel resort menggali profil, memetakan potensi dan permasalahan serta mendokumentasikannya.  Proses persiapan, pelaksanaan dan evaluasinya dikawal oleh unsur pimpinan. Hal menarik dari inovasi ini adalah pembuktian teori dimana Knowledge Management dan Sosial kapital merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk organisasi pembelajar. Didalamnya dibangun tradisi persiapan kerja, persiapan metodologi, budaya berkomunikasi, budaya mendokumentasi dan budaya menulis. Kisah flying team dapat dinikmati disini.

Lainnya adalah perpustakaan yang telah ada, dikembangkan dan disemangati lagi. Inovasi lain yang masih dalam konteks transfer knowledge adalah membangun kemitraan kerjasama antar organisasi. Studi Spesies Komodo di Cagar Alam Wae Wuul dengan KSP atau studi coral bersama Fakultas Kelautan Universitas Diponegoro dapat menjadi media knowledge capture yang berasal dari sumber di luar organisasi.

 

G. PEMETAAN TRANSFER PENGETAHUAN DALAM MODEL SECI

BBKSDA NTT dalam menjalankan program RBM -dengan jargon “kawasan  terjaga,  potensi tergali,  masalah  terpecahkan”- menggunakan TIK sebagai salah satu tool. Penggalian profil kawasan telah membantu organisasi mengembangkan sistem penyimpanan data spasial yang membantunya memetakan wilayah dalam berbagai tema informasi. Keseluruhan proses tersebut pada dasarnya merupakan knowledge management yang oleh Nonaka (1991) dapat dikenali pola transfer pengetahuannya. Transfer pengetahuan menurut model SECI dapat dikenali melalui dengan cara apa proses tersebut berlangsung. SECI mendeskripsikan 4 pola yakni Socialization (tacit to tacit), externalization (tacit to explicit) , Combination (explicit to explicit) dan Internalization (Explicit to tacit).

Praktek implementasi program RBM sejak tahun 2012 telah mendorong organisasi BBKSDA menciptakan beberapa inovasi tehnik bekerja yang keseluruhannya merupakan proses transfer knowledge. Terdapat 10 komponen KM yang teridentifikasi dan dipetakan menurut SECI model. Setiap komponen berlangsung melalui salah satu dari 4 model transfer dan menghasilkan output apakah tacit atau explicit knowledge.

Pemetaan Transfer Pengetahuan di BBKSDA NTT dalam Model SECI dan Model KI HAJAR

Pola transfer pengetahuan beroperasi pada setiap unsur SECI.  Pola transfer yang menarik adalah penyusunan profil kawasan yang berjalan dalam eksternalization dan Combination. Penjelasannya mungkin sebagai berikut: 

organisasi tidak akan langsung mampu menyusun profil kawasan karena tidak cukup memiliki knowledge. Cara yang paling efektif pertama kali dilakukan adalah melakukan pemetaan partisipatif. Produk dari cara ini menjadi peta awal yang kemudian dikonfirmasi, divalidasi, disempurnakan melalui berbagai cara kerja. Hingga pada satu waktu dimana informasi sudah cukup terkumpul maka disusunlah profil suatu kawasan. Namun demikian dalam penyusunan profil akan selalu terjadi komunikasi atau diskusi, yang salah satunya adalah update pengetahuan tacit untuk dimasukkan kedalam profil, selain bersumber dari sumber eksplisit.

seci dan kmk

Gb 1. Transfer Pengetahuan di BBKSDA NTT menurut Model SECI. Kesimpulan sementara, penyusunan profil kawasan yang dilakukan bersama-sama adalah aktifitas pengetahuan yang paling lengkap. Lebih jauh lagi menjadi cara efisien mensuplai Situation Room. 

Gb 2. Tahapan (kotak) dan berbagai inovasi (lingkaran) yang diusahakan dalam menghimpun pengetahuan organisasi dalam konsep yang digagas sebagai Kelola Minimal Kawasan (KMK). Praktiknya mungkin tidak berurutan sbgmana gambar. Produknya diharapkan dapat mengantarkan ditemukannya prioritas intervensi (tidak lagi decision by feeling). KMK bisa dilihat di http://konservasiwiratno.blogspot.com/2012/04/kelola-minimal-kawasan.html

 

Model KI HAJAR – NITENI NIROAKE NAMBAHKE

Saya bingung cari istilah yang singkat tepat, mohon maaf  dgn istilah Model Ki Hajar. Frasa ini pertama kali saya baca dari tulisan mas Arif Sulfiantono di Buku kearifan lokal masyarakat sekitar kawasan TN Gunung Merapi yang ditulis rekan-rekan TNGM. Saya baca juga sumber ini dan bertanya ke beberapa kawan yang orang Jawa terutama kata niteni.

 

Pada bagian ini saya ingin menjelaskan bahwa berbagai tool itu bukanlah hal baru. Bagaimanapun semua inovasi itu berasal dari pengalaman melihat, melakukan atau membaca, yang kemudian datang sebagai inspirasi. Diadopsi, disesuaikan dengan kondisi, modifikasi tambahan dan pengurangan, didiskusikan dan dipraktekkan. Sketmap atau pemetaan partisipatif  sudah lama dikenal di pendampingan perencanaan desa untuk masyarakat awam peta. Tool ini efektif mengartikulasikan peta mental menjadi peta eksplisit. Tallysheet RBM belajar kepada TN Gunung Halimun Salak dan TN Alas Purwo. Peta Grid atau sistim blok/petak Vak Werk Methoda atau peta blok kerja di HPH Hutan Alam sudah lama ada. Flying Team itu mirip tim terpadu pada skala lokal.

 

H. MANFAAT

Setelah bersetia dengan proses, profil-profil mulai tampak dan dikenali. Keputusan, prioritas dan tindakan dengan mudah ditentukan. Untuk lebih jelasnya, salah satu manfaatnya dapat dilihat di link ini

 

I. PEMBELAJARAN

  1. KM merupakan tool untuk menghimpun pengetahuan kawasan agar organisasi lebih mudah memahami potensi/masalah/key feature kawasan. KM menuntun kepada keputusan dan tindakan yang lebih berkualitas.
  2. Penting untuk difahami bahwa penerapan KM tidak berhubungan dengan terselesaikannya persoalan. Dalam kasus organisasi BBKSDA NTT, KM telah berperan mensuplai pengetahuan bagi pimpinan, namun keputusan penyelesaian persoalan maupun kebijakan lainnya ditentukan oleh pimpinan dalam kapasitasnya sebagai expert judgement.
  3. KM merupakan alat meng-capture pengetahuan pribadi yang melekat pada masing-masing personel sedemikian rupa menjadi pengetahuan organisasi. Fakta ini menjadikan KM sebagai solusi terhadap “kebocoran pengetahuan”, knowledge loss,  atau Brain drain karena seluruh capital intellectual telah terdokumentasikan dalam repository organisasi. Dalam organisasi pemerintah selalu terjadi mutasi kepemimpinan, promosi jabatan dan tugas belajar. Kerap program yang direncanakan matang harus mengalami kemandekan akibat human kapital berpindah.
  4. Asumsi bahwa KM dan sosial kapital merupakan disiplin yang saling berhubungan erat, saling mengisi untuk membangun organisasi pembelajar. Namun demikian asumsi ini masih harus dibuktikan.
  5. KM berkonsekuensi positif terhadap volume pengetahuan organisasi melalui media transfer sebagaimana disebutkan Nonaka (Model SECI). Sebaliknya, bagaimana dengan manusia sebagai sumber daya utama ? apakah KM membawa personel mengalami peningkatan kompetensi softskill dan hard skill ? Tantangan terhadap KM adalah apakah manusia berperan sebagai aktor utama atau sekedar aset organisasi yang bekerja sebagai pengumpul data.
  6. KM yang tidak dipungkas dengan leadership berkualitas dipastikan menghasilkan pengetahuan yang terinflasi. Pengetahuan hanya ditabung tapi tidak diputar. Tabungan itu akan semakin tidak berkualitas karena tidak diberi feedback keputusan rutin yang tersampaikan hingga ke resort. Besar kemungkinan memunculkan kekecewaan, sikap skeptis, disorientasi. Personel mungkin rajin ke lapangan mengumpulkan informasi tapi sambil digayuti pertanyaan “untuk apa sih melakukan ini“. Bahkan bisa lebih parah, misalnya, moral hazard saat mengisi tallysheet.

 

J. PENUTUP

Beberapa alasan mengapa catatan ini ditulis:

1. Semoga menepis anggapan bahwa mengumpulkan data dengan tallysheet, menginput ke dalam SIM adalah tujuan dari RBM. Berkutat dengan tool ini hanya berurusan dengan 12% pengetahuan kawasan.

2. “Memangnya setelah data terkumpul, persoalan selesai ?” Ini kalimat yang kerap terdengar di awal inisiatif membangun data. Syarat penyelesaian persoalan adalah data terkumpul dahulu. Selebihnya adalah membunuh perilaku jaim, kerelaan sharing dan nyali untuk follow up.

2. Best Practice Transfer adalah salah satu isu utama Knowledge Management.  Kita berurusan dengan waktu biologi bahkan geologi. Kerelaan pewarisan dan pelanjutan adalah jalan keluarnya.

3. Orisinalitas hanyalah milik Tuhan dan obsesi pribadi terhadap “pertamax” adalah penyakit kejiwaan dalam organisasi pembelajar.

4. Pengetahuan milik  Tuhan. Apa hak kita mengkapitalisir atau membatasi sharing demi kejayaan pribadi ?

 

WALLAHUA’LAM BISHOWAB

 

Knowledge Management (1)

Permisi kepada para suhu, mohon dikoreksi bila ada yang keliru dalam tulisan ini. Mohon maap atas kegenitan saya menulis soal KM. Semoga bermanfaat.

 

A. MANAJEMEN PENGETAHUAN (KNOWLEDGE MANAGEMENT)

Knowledge Management (KM) merupakan proses menghimpun, mengembangkan, menyebarkan dan memanfaatkan pengetahuan organisasi secara efektif. Tujuan KM adalah mengelola dan memaksimalkan aset-aset organisasi (SDM, Peralatan, anggaran, prosedur kerja) dalam mencapai tujuan. KM berfokus pada kumpulan proses yang mengatur penciptaan, penyebaran, dan pemanfaatan pengetahuan untuk memenuhi tujuan organisasi sehingga menambah nilai dan meningkatkan produktivitas (Zyngier,2012). Bill Gates (1999) mengatakan KMS tidak tentang teknologi melainkan tentang tujuan pengelolaan, proses-prosesnya, dan kesadaran berbagi informasi. The Gartner Group mendefinisikan KM (Morey, 2002) sebagai disiplin yang mengedepankan pendekatan kolaboratif terintegrasi dalam proses penciptaan informasi, mengorganisir, mengakses dan menggunakannya. Aset-aset informasi ini meliputi basisdata atau dokumen, dan yang lebih terpenting lagi adalah yang tidak sulit ditangkap, yaitu keahlian tacit dan pengalaman terpendam yang tersimpan pada setiap personil. KM adalah  pendekatan multidisiplin untuk mencapai meningkatkan performa organisasi dalam mencapai tujuan (Davenport, 1994; Zaim, 2013), proses sharing, transfer dan penciptaan pengetahuan (Nonaka,1995), Organisasi pembelajar (Senge,), KM merupakan topik yang memiliki rentang disiplin yang lebar di kalangan akademik dan praktisi di organisasi profit maupun pemerintah/publik (Farzin,2013; Zaim,2013), faktor kunci pengembangan organisasi (Jamalzadeh,2012) merupakan strategi kultur manajemen organisasi (Zyngier,2005). KM mengubah Frasa “The knowledge is power“ dalam era of knowhow menjadi “knowledge sharing is power” (Davenport, 1998 dalam Salimi,2012 ). Hasil survey menunjukkan bahwa penghambat implementasi KM adalah keterbatasan waktu dan anggaran investasi berbagi pengetahuan, kurangnya pemahaman filosofis, keahlian dan keuntungan dari pengelolaan pengetahuan. Namun hambatan paling utama terletak pada persoalan kultur organisasi (Chase, 1997; Zyngier, 2001 dalam Zyngier, 2005). Menurut Tuomi (2000), KM adalah cara pandang untuk membedakan data, informasi dan pengetahuan (Tuomi,2000). Data dan informasi bukanlah pengetahuan sampai diketahui bagaimana menggali nilai-nilai darinya. Itu menjadi alasan mengapa KM diperlukan.

 

B. PENGETAHUAN, TRANSFER PENGETAHUAN DAN PENCIPTAAN PENGETAHUAN

Data adalah fakta sederhana yang dapat distrukturkan, simbol yang diberi sintaks, dibentuk menjadi informasi. Informasi berubah menjadi pengetahuan setelah diinterpretasi, diletakkan pada suatu konteks atau diberikan suatu pengertian. diberi  has commonly been seen as simple facts that can be structured to become information. Gagasannya adalah data diperlukan sebelum informasi dapat diciptakan dan hanya dengan informasi’lah pengetahuan muncul. Intelligence dan Wisdom adalah tipe pengetahuan lain yang lebih jauh (Tuomi, 2009).

datakepengetahuan

Berdasarkan Riset Delphi Group (Uriarte,2008) pengetahuan organisasi tersimpan di fikiran personel sebanyak 42%, tersimpan di dokumen kertas 26%, dokumen elektronik 20% dan tersimpan dalam elektronik knowledge base 12%.

delphi

Sumber: Uriarte,2008 h.9

 

Pengetahuan didefinisikan sebagai informasi valid yang dapat dibedakan dari opini, spekulasi, kepercayaan atau informasi lainnya yang tidak dapat dibuktikan (Liebeskind, 1996 dalam Murray, 2007). Nonaka (1991) membagi pengetahuan kepada dua kelas utama yakni Explicit Knowledge dan Tacit Knowledge :

 

1. EXPLICIT KNOWLEDGE

Explicit knowledge adalah informasi yang dapat ditransmisikan tanpa kehilangan unsur sitaksis yang diperlukan pada saat memahaminya. Explicit knowledge merupakan jenis informasi yang tertulis (Nonaka, 1994). Smith (2001) menyebutnya sebagai pengetahuan akademik atau ‘‘know-what’’ yang tersaji dalam bahasa formal, tersimpan dalam cetakan maupun elektronik dan lebih sering berasal dari suatu prosedur kerja standar.

 

2. TACIT KNOWLEDGE

Tacit knowledge merupakan hal yang lebih kompleks dari sekedar informasi. Tacit knowledge merupakan akumulasi keahlian praktis atau pengalaman yang membuat seseorang dapat bekerja secara efisien. Pengetahuan ini bersifat personal yang menyebabkan sulit untuk diartikulasikan secara saintifik maupun prinsip teknis. Tacit Knowledge pun memiliki dimensi kognisi yang didalamnya terkandung aspek mental, kepercayaan dan perspektif yang sedemikian rupa tidak mudah untuk dituliskan (Nonaka, 1991). Smith (2001) menyebut tacit knowledge sebagai pengetahuan yang berorientasi tindakan, bersifat praktis yang diperoleh melalui pengalaman, jarang diungkapkan terbuka dan lebih sering menyerupai intuisi.

seci

Ikujiro Nonaka (1991) menjelaskan bahwa terdapat 4 pola dasar penciptaan pengetahuan di setiap organisasi yang bergerak secara spiral. Model spiral ini merefleksikan hubungan antara dimensi epistemologi dan ontologi dalam proses penciptaan pengetahuan. Spiral mengilustrasikan dialog kontinyu antara pengetahuan tacit dan pengetahuan eksplisit dalam melahirkan konsep baru (Nonaka,1994). Konsep tersebut dikenal dengan model SECI (Socialization-Externalization-Combination- Internalization). Nonaka (1991) menggambarkan dalam cerita Perusahaan Matsushita yang memproduksi alat pembuat roti yang hasilnya selalu gosong. Salah seorang bernama Ikuko Tanaka berinisiatif belajar bikin adonan roti kepada chief di Hotel Osaka yang memang berreputasi baik urusan roti. Setelah memahami cara pembuatannya, Tanaka kembali dengan sebuah spesifikasi alat dan akhirnya Matsushita mencatat rekor penjualan alat dapur ini. kisah lengkap bisa dibaca di http://www3.uma.pt/filipejmsousa/ge/Nonaka,%201991.pdf

Dalam konsep SECI ini penciptaan pengetahuan berlangsung dalam 4 pola.

Pola 1. Tacit ke Tacit Knowledge melalui Sosialization. transfer pengetahuan cara membuat roti dari ahli roti hotel Osaka kepada Tanaka. Dia mengamati, meniru mempraktekkan. Cara membuat roti menjadi pengetahuan tacit untuk Tanaka

Pola 2. Tacit ke Eksplicit Knowledge melalui Externalization. Tanaka kemudian mendokumentasikan pengetahuannya sehingga memungkinkan dishare kepada anggota tim.

Pola 3. Explicit ke Explicit Knowledge melalui Combination. Bersama tim, pengetahuan membuat roti digabung dengan pengetahuan lainnya menyusun kembali desain produk yang baru.

Pola 4.  Explicit ke Tacit Knowledge melalui Internalization. Saat berlangsungnya pembuatan produk baru itu, setiap anggota tim menginternalisasikan pengetahuan tentang roti itu ke dalam tacit knowledge masing-masing.

Nonana menekankan bahwa artikulasi (konversi tacit ke eksplisit) dan internalisasi (eksplisit ke tacit) adalah tahapan kritis dalam proses spiral ini.

Transfer pengetahuan didalam organisasi merupakan cara penting bagi setiap personel untuk saling belajar dan mengkreasi pengetahuan baru. Murray (2007) meringkas 4 alasan mengapa transfer pengetahuan menjadi vital bagi organisasi:

Pertama, berbagi sumberdaya dan transfer pengetahuan memungkinkan terjadinya keuntungan sinergis (Brush, 1996; Govindarajan and Fisher, 1990; Gupta and Govindarajan, 1986; Porter, 1987 dalam Muray, 2007). Kedua, transfer pengetahuan memungkinkan setiap personel mengidentifikasi dan merespon dengan tepat situasi kritis dan lebih cepat beradaptasi (Zajac and Bazerman, 1991 dalam Muray, 2007). Ketiga, transfer pengetahuan memungkinkan personel memperoleh informasi yang lebih lengkap dan untuk membuat keputusan yang lebih baik (Gnyawali et al., 1997 dalam Muray, 2007). Terakhir, organisasi menciptakan pengetahuan baru melalui penggabungan pengetahuan komplementer yang dimiliki setiap personel (Anand et al., 2003; Grant, 1996a dalam Muray, 2007).

 

C. TEKNOLOGI INFORMASI  DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM KM

Teknologi informasi merupkan salah satu aspek dalam wacana KM. Namun demikian wacana tersebut semakin berkembang bersamaan dengan meningkatnya penggunaan komputer. Teknologi komputer mampu mengadaptasi kebutuhan organisasi dalam hal knowledge bases, expert systems, knowledge repositories, group decision support systems, intranets, and computer-supported cooperative work.

TIK didefinisikan sebagai “The study of the technology used to handle informationand aid communication” (http://www.webster-dictionary.org). Frasa ini dialamatkan kepada laporan Dennis Stevenson tahun 1997 kepada Pemerintah Inggris yang kemudian dipromosikan dalam dokumen kurikulum nasional pada tahun 2000. TIK adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek: teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Dua konsep mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (software/hardware) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20. (http://www.wikipedia.org ).

Kekuatan TIK dalam KM berada pada kemampuannya dalam mendukung penyimpanan data, proses manipulasi dalam penciptaan informasi sekaligus pengetahuan yang disebut (Malhotra, 2000) sebagai knowledge repository. Melalui penggunaan teknologi ini KM dapat lebih cepat dibangun. Seluruh personel mampu menangani tugasnya dan dapat meningkatkan produktifitasnya (ede, 2011). Pern pentingnya adalah mampu mendukung komunikasi, kolaborasi, pencarian pengetahuan dan pembelajaran bersama (Ngok, 2005 dalam Allameh, 2011). Al-Qdah dan Salim (2013) menyatakan bahwa peran TIK dalam KM merupakan enabling factor dalam mendapatkan, menyimpan dan mentransferkan tacit dan explicit knowledge sekaligus. Kesuksesan penerapan TIK  dalam KM ditentukan oleh mekanisme transfer pengetahuan yang sesuai dan media komunikasi yang dipilih. TIK merupakan faktor kunci yang bersifat aktif dan utama dalam KM (Menurut Davenport dan Prusak 1998 dalam Allameh, 2011), yang dapat diklasifikasikan pada dua tipe ((Song et al, 2001 dalam Allameh, 2011):

(1)      Teknologi komunikasi (emails, video conferencing, electronic bulletin boards and computer conferencing).

(2)      Teknologi pembuat keputusan (decision support systems, expert systems and executive information systems).

Motif utama TIK diperlukan dalam KM adalah (Malhotra, 2000): (1) memungkinkan sharing diantara personil, (2) mencegah duplikasi informasi dan (3) menawarkan keuntungan dari kecepatan akses. Informasi yang dapat diakses dari manapun, kapanpun dalam berbagai format akan membuat organisasi mampu beradaptasi dan lebih survive terhadap setiap perubahan. Sistem informasi akan memelihara sejarah organisasi, pengalaman dan keahlian yang dalam saat ini berada dalam masiang-masing personil. Sistem informasi –bukan personelnya- dapat menjadi struktur organisasi yang stabil. Personil dapat masuk dan keluar, namun value dari pengalaman mereka menjadi milik organisasi yang membantunya dalam menjalankan roda.

alameh

Sumber : Allameh, 2011

 Pemahaman cukup penting disampaikan oleh Adamides dan Karacapilidis (2006) bahwa informasi yang terorganisir tidak dapat menggantikan pengetahuan tacit, pemahaman dan pembelajaran yang mana merupakan sumber daya penting untuk proses-proses inovasi, namun secara signifikan dapat mendorong untuk mengisi celah atau kesenjangan pengetahuan yang ada. Kesenjangan dimaksud adalah perbedaan antara pengetahuan yang dimiliki organisasi dengan pengetahuan yang dibutuhkan untuk solusi masalah-masalah spesifik. TIK diharapkan peran TIK tidak hanya untuk mengorganisir data namun juga mendorong transformasi informasi menjadi pengetahuan organisasi. Lebih jauh lagi, karena inovasi adalah proses sosial yang melibatkan aktor-aktor yang beragam, TIK dituntut untuk mendukung aliran pengetahuan diantar aktor dan artefak (Brown dan Eisenhardt , 1995; Tidd et al , 1997 dalam Adamides dan Karacapilidis, 2006).

Konsep KM berbasis paradigma TIK disajikan dalam tabel berikut (Malhotra, 2000): 

toolKM

 

CONTEKAN PUSTAKA

Adamides, Emmanuel D. , Nikos Karacapilidis, 2006, Information technology support for the knowledge and social processes of innovation management, University of Patras, Technovation 26 (2006) 50–59

Allameh, Sayyed Mohsen, Sayyed Mohsen Zare, Sayyed mohammad reza davoodi, 2013, Examining the Impact of KM Enablers on Knowledge Management Processes, Procedia Computer Science3 (2011) 1211-1223.

Al-Qdah,Mohammad Sh., Juhana Salim, 2013, A Conceptual Framework for Managing Tacit Knowledge through ICT Perspective, The 4th International Conferenceon Electrical Engineering and Informatics (ICCEI 2013),Procedia  Technology  11  ( 2013 )  1188  –  1194 Published by Elsevier Ltd.

Dalkir, Kimiz, 2005, Knowledge Management in Theory and Practice, Mc Gill University, Elsevier Inc.

Davenport, Thomas H. ,1994, “Saving IT’s Soul: Human Centered Information Management”. Harvard Business Review 72 (2): 119–131.

Ede, M Y Chan, S. Mohamed, 2011, Mapping Relationships among the Enablers Management within Hong Kong Construction, The Twelfth East Asia-Pacific Conference on Structural Engineering Procedia Engineering 14 (2011) 1938–1944

Farzin, Mohammad Reza, Mohammad Safari Kahreh, Mostafa Hesan, Ali Khalouei, 2013, A Survey of Critical Success Factors for Strategic Knowledge Management implementation: applications for Service Sector, Procedia – Social and Behavioral Sciences 109 ( 2014 ) 595 – 599.

Hoffman, James J, Mark L Hoelscher, Karma Sherif, 2005, Social capital, knowledge management, and sustained superior performance, Journal Of Knowledge Management Vol. 9 NO. 3 2005 93-100, Emerald Group Publishing Limited.

Jamalzadeh, Mohammad, 2012, The Relationship between Knowledge Management and Learning Organization of Faculty Members at Islamic Azad University, Shiraz Branch in Academic year (2010-2011), Procedia – Social and Behavioral Sciences 62 ( 2012 ) 1164 – 1168.

Malhotra, Y, 2000, From Information Management to Knowledge Management: Beyond to “Hi-tech Hidebound” Systems, in K Srikantaiah & M.E.D. Koenig (ed), Knowledge Management For Information Proffesional, Medford N.J.:Information Today Inc, 37-61.

Murray, Samantha R.,2007, Knowledge type and communication media choice in the knowledge transfer process, Journal of Managerial Issues Publisher: Pittsburg State University – Department of Economics

Morey, Daryl, Mark T. Maybury, Bhavani M. Thuraisingham (editor),2002, Knowledge Management: Classic and Contemporary Works, Massachusett Institut Technology Press.

Nonaka, Ikujiro. 1991, “The Knowledge-creating Company.” Harvard Business Review 69 (6): 96-104.

Nonaka, Ikujiro, 1994, “A Dynamic Theory of Organizational Knowledge Creation” Organization Science 5 (1): 14-37.

Nonaka, Ikujiro, Ryoko Toyama and Noboru Konno,2000, SECI, Ba and Leadership: a Unified Model of Dynamic Knowledge Creation,  Long Range Planning 33 (2000) 5-34, Elsevier Science Ltd.

Salimi, Elham, Vahab VahdatZad, Farshid Abdi, 2012, Key dimensions to Deploy a knowledge management system in an Iranian firm, a case study, Procedia  Technology  1(2012)268–274,Published by Elsevier Ltd.

Smith, Elizabeth A., 2001, The role of tacit and explicit knowledge in the workplace, Journal of Knowledge Management Volume 5 Number 4 311-321, MCB University Press.

Tiwana, Amrit, 1999, The Knowledge Management Toolkit (First Edition), Publisher: Prentice Hall PTR.

Uriarte, Filemon A., 2008, Introduction to Knowledge Management, Jakarta:ASEAN Foundation.

Tuomi, Ilkka, 2000, Data is More Than Knowledge: Implications of the Reversed Knowledge Hierarchy for Knowledge Management and Organizational Memory To appear in: Journal of Management Information Systems / Fall 1999, Vol. 16, No. 3., pp 107-121

Zaim, Selim, Nizamettin Bayyurt , Mehves Tarim, Halil Zaim, Yunus Guc, 2013, International Strategic Management Conference System dynamics modeling of a knowledge management process A case study in Turkish Airlines, Procedia – Social and Behavioral Sciences 99 ( 2013 ) 545 – 552.

Membuat DEM dari Kontur di Globalmapper

 

semoga berfaedah

membuat DEM dari Kontur

Slope, Kelas Lereng dan Generalisasi Peta

Hasil pembuatan kelas kelerengan biasanya menyisakan poligon-poligon kecil yang mengganggu, baik untuk proses analisa maupun untuk keperluan menampilkan.

disini dicobakan share urutan proses pembuatan kelas lereng dari data SRTM dan generalisasi data vektornya dgn ARCGIS. contoh data berlokasi di wilayah Tasik dengan sistem koord. UTM proy.wgs84.

Cara lain bisa menggunakan ERDAS dengan tool CLUMP dan ELIMINATE. Namun pendapat awam saya, tidak semuanya harus berjalan otomatis. Terlebih generalisasi untuk kasus tutupan lahan. Seringkali kita harus secara manual melakukannya.

 

semoga share kecil ini berfaedah.

A) Tool : 3D Analyst -> ŽRaster -> Surface Ž-> SlopeDisini dipilih satuan persen  1
B) Tool : 3D Analyst Tools -> ŽRaster Reclass -> ŽReclassifyMisalnya kelas lerengnya sbb:

0 – 3% (1)

3 – 8% (2)

8 – 15% (3)

15 – 25% (4)

25 – 40% (5)

> 40% (6)

pada batas angka trakhir 15,929.75586 dibulatkan keatas 20000 sebagai batas nilai kelas terakhir

 2
C) Tool :  Conversion Tools -> ŽFrom Raster -> ŽRaster to Polygon 

Hasil reklasifikasi kelas lereng dirubah menjadi vektor

 3
D) Pada file hasil vektorisasi, tambahkan field baru untuk data luasPada tabel hasil vektorisasi  ditambahkan field baru (add field) bernama “Luas” (tipe double). lalu di-calculate geometry untuk mendapatkan luasan (misal square meter). Ini bagian penting karena kita akan mensortir mana saja poligon yangharus dihilangkan/digabungkan.disini saya men-select luas poligon dibawah 20ribu meter persegi.  4
E) Tool : Data Management Tools Ž-> Generalization Ž-> Eliminate 

Dalam keadaan terseleksi, jalankan prosedur elliminate.

 5

 

VEGETATION-IMPERVIOUS SURFACES-SOIL (VIS) Bagian II

Memahami komponen biofisik suatu lansekap dari suatu ketinggian (remote sensing) secara mudah memang cukup membaginya kepada 3 penutupan: Apakah bervegetasi, apakah terbuka ataukah merupakan penutupan oleh bangunan. Impervious Surfaces sendiri sudah menjadi pengetahuan bersama di lingkaran peminat urban planing atau fungsional perencana tata ruang.

Saya belum faham utuh apakah cara berfikir Ridd dengan VIS-nya itu bisa digunakan untuk memandang kawasan konservasi. Namun gagasan ini cukup asyik karena beberapa kunci. Pertama, impervious surfaces mewakili pengetahuan tentang fitur antropogenik alias petunjuk dari hasil kerjaan manusia. kedua, impervious berurusan dengan aliran permukaan dan penilaian lingkungan. Jika tak terkendali bisa celaka sendiri. Kayak Jakarta banjir sendirian padahal di Bogor gak lebat-lebat amat. Meski belum tentu bisa membuka pintu, pas dimasukin ke lubangnya, kunci itu lumayan cocok euy..

 

permisi sebentar, tulisan MK Ridd berjudul Exploring a V-I-S (Vegetation-Impervious surface-Soil) model for urban ecosystem analysis through remote sensingComparative anatomy for cities bisa diunduh disini:

http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/01431169508954549?journalCode=tres20#.Uwnl5fmSxLM

 

Lanjut ya,

Sudah barang tentu kudu hati-hati dengan istilah soil-nya VIS ini  (area bukan vegetasi tapi bukan tertutup bangunan). Di kawasan konservasi ada area bukan vegetasi/hutan namun alami: Danau, sungai, savana Baluran, perairan teluk cenderawasih, Tengger zandzee, blang di TN Leuser, Area yang tampaknya kritis padahal sedang pembelukaran sebagai bagian proses suksesinya dst…

Sekali lagi ini tentang melihat dari jauh dan berusaha mendapatkan informasi indikatif di langkah pertama lewat bantuan citra satelit. Maksudnya, jangan kegeeran menuding kawasan aman sejahtera dengan warna hijau tua dan muda. Yang tampak hijau tua bisa jadi pohon Melinjo dan yang hijau muda bisa jadi gerombolan pisang. Liat aja di THR Carita Banten.

Kemudian dengan gegabahnya saya berandai-andai kalo melihat citra satelit kawasan konservasi, maka komponen biofisik yang mudah saya dapati adalah tiga : (1) Vegetasi, (2) Area terbuka alami, dan (3) Area terganggu. Sisanya saya nyontek gagasannya Ridd.

Dari data tutupan lahan tahun 2009 (http://webgis.dephut.go.id) dan kawasan konservasi, lalu Clip sana, Identity sini, Dissolve sana dan seterusnya, dengan asumsi yang semena-mena saya dapatkan rekap region seperti ini:

Region

persen_vegetasi

persen_terbuka_alami

persen_terganggu

Jawa Bali

61.9

7.0

31.1

Kalimantan

77.5

18.2

4.3

Maluku

90.2

7.2

2.5

Nusa Tenggara

53.5

39.8

6.7

Papua

80.5

17.2

2.3

Sulawesi

80.5

11.5

8.0

Sumatera

77.7

12.6

9.8

 

Lalu setelah dispasialkan, jadinya seperti ini:

VIS_REGION

VIS_KK

KESIMPULAN

Kesimpulan? orang asumsinya aja sembrono koq brani-braninya kesimpulan. Nggak ada kesimpulan, gak brani. Tapi saya beroleh pembelajaran begini:

1. Kondisi tutupan kawasan konservasi di semua ekoregion -kecuali Jawa- masih ada di pojokan bawah. Syukurlah.

2. Variasi sebaran posisi kawasan konservasi di semua ekoregion beragam (nanti saya uplodkan penggerombolannya). Artinya apa ? Jika saya pengelola kawasan, saya tidak akan mau terjebak pseudo-kriteria ketika membuat prioritas, meski diburu-buru sama bos. Atau bertingkah sok sibuk bahwa saya birokrat yg harus bikin keputusan cepat.

3. Lebih baik menyadari ketidakberpengetahuan ini dengan cara rela berkomunikasi kepada orang yang paling mengerti. Biasanya orang-orang seperti itu ada di lapangan atau suka ke lapangan.

4. Apa itu pseudo-kriteria ? menurut saya sih, kriteria yang dibangun untuk bikin prioritas/keputusan dengan pengetahuan umum yang belum tentu benar atau bermanfaat. Misalnya: apakah Taman Nasional atau bukan. Apakah kawasan itu “terikat” dengan konvensi internasional atau tidak? apakah ukurannya besar atau kecil? apakah eko-region sudah terwakili ?

5. Pembelajaran trakhir, sehebat apapun Desktop RS-GIS, konkretnya ada di lapangan. Jadi, jangan habiskan resources di desktop.

 

terimakasih untuk Kang Dinda dan Mas Doni untuk Gap Analysisnya (inspiratif euy, kapan ngegap lagi ?). Terimakasih Mas Judin Purwanto. Terimakasih untuk Bu Luluk, Mas Mursyid, Mas Bayu, Kang Rozak, Mbak Dona dll atas ajaran menghargai data dan pemiliknya.

 

Bogor, 24 Feb 2013

VEGETATION-IMPERVIOUS SURFACES-SOIL (VIS) Bagian I

Impervious surface atau lahan terbangun adalah area yang telah mengalami substitusi penutup lahan alamiah ataupun semi alamiah penutup lahan buatan yang biasanya bersifat kedap air dan relatif permanen. Lahan terbangun meliputi permukiman, bangunan industri, jaringan jalan, Jaringan rel kereta api, jaringan listrik tegangan tinggi, bandara udara dan pelabuhan laut (BSNI,2010). Definisi dari U.S. Environmental Protect on Agency’s Draft Report on the Environment(2003a) adalah: “A hard surface area that either prevents or retards the entry of water into the soil mantle or causes water to run off the surface in greater quantities or at an increased rate of flow. Common impervious surfaces include, but are not limited to rooftops, walkways, patios, driveways, parking lots, storage areas, concrete or asphalt paving, and gravel roads”. Lahan terbangun merupakan fitur antropogenik (struktur/obyek buatan manusia) yang menyebabkan air tidak dapat terinfiltrasi ke dalam tanah sekaligus meningkatkan aliran diatas permukaan tanah. Lahan terbangun merupakan indikator kunci dalam penilaian lingkungan perkotaan (Lu & Weng, 2006). Sejumlah studi memperlihatkan efek negatif dari meningkatnya luas lahan terbangun terhadap morfologi aliran, kualitas air, kesehatan lingkungan. Perdebatan tentang praktek-praktek terbaik mengenai mitigasi efek tersebut semakin komplek dan berkembang (Tilley,2007). However, accurate impervious surface extraction is still a challenge. (Lu & Weng, 2006).

Penggunaan penginderaan jauh dalam meneliti lahan terbangun telah dimulai sejak tahun 1970-an. Slonecker et al. (2001) dalam (Lu & Weng, 2006) mengelompokkan metoda analisis lahan terbangun kedalam tiga kategori yakni : interpretive applications, spectral applications, dan modeling applications. Brabec et al. (2002) dalam (Lu & Weng, 2006) menyimpulkan empat pendekatan untuk mengevaluasi lahan terbangun: menggunakan planimeter untuk mengukur luas lahan terbangun melalui foto udara, menghitung jumlah grid yang berpotongan melalui tumpang susun foto udara, menggunakan klasifikasi dalam interpretasi gambar, dan penaksiran luas lahan terbangun melalui angka urbanisasi pada suatu wilayah. Lu & Weng (2006) menjelaskan bahwa riset-riset dalam rangka mengekstrak informasi dari fenomena lahan terbangun sudah maju melangkah pada klasifikasi data citra per piksel, klasifikasi sub piksel, model pohon keputusan, kombinasi fraksi citra high-albedo and low-albedo (Weng,2010) dan kemantapan relasi antara lahan terbangun dan penutupan vegetasi. Namun demikian Lu & Weng (2006) mengatakan bahwa pendekatan dan mengenai lahan terbuka masih menjadi tantangan karena kompleksitas/heterogenitas di perkotaan/pinggiran kota serta keterbatasan resolusi spasial dan spektral citra.

Pada tahun 1995 M.K. Ridd dari center for Remote Sensing and Cartography and the University of Utah Research institute, Salt Lake City, Utah, mempublikasikan makalah berjudul “Exploring a V-I-S (vegetation-impervious surface-soil) model for urban ecosystem analysis through remote sensing: comparative anatomy for cities”. Ridd mengajukan cara baru untuk memahami karakter dan komposisi ekosistem perkotaan melalui rasio gabungan dari tiga endmembers utama : vegetasi, lahan terbangun dan tanah. Melalui tiga komponen ini Ridd memperlihatkan bagaimana penginderaan jauh dapat digunakan untuk area perkotaan yang luas dan memecahnya dalam suatu komposisi. Bahkan beberapa kota yang berdekatan dapat digambarkan dengan model yang sama (Gaw, 2013). Ridd menyatakan bahwa Vegetation-Impervious surface-Soil (VIS) dapat menjadi dasar standarisasi parameter komposisi biofisik lingkungan perkotaan. Lebih jauh model VIS dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan dan pertumbuhan kota, analisis impak urbanisasi, menginvestigasi hubungan energi dan air serta beberapa dimensi dari analisis ekosistem manusia di suatu kota (Ridd, 1995).  Namun demikian Model VIS hanyalah tahapan framework. Sejak publikasinya lebih dari 18 tahun, kemampuan komunitas SIG dan penginderaan jauh untuk menganalisis dan menggambarkan kondisi urban dan non urban secara remote platform masih belum cukup sempurna (Gaw, 2013).

VIS seperti halnya konsep diagram segitiga sand-silt-clay yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi tekstur tanah, merupakan komposisi spasial lansekap perkotaan yang   yang menghubungkan komponen vegetasi, lahan terbangun dan tanah dalam bentuk diagram segitiga (Ridd,1995).

vis1

sumber gambar: Ridd,1995:2168,2173.

Lingkungan perkotaan adalah area yang amat heterogen secara spasial maupun spektral sehingga membawa kepada problem umum bidang penginderaan jauh yakni mixed pixels. Mixed pixel adalah sel raster yang mengandung lebih dari satu kategori land use/land cover pada suatu permukaan tanah (Hung, 2009). Lu & Weng (2006) menjelaskan bahwa konseptual VIS dapat diimplementasikan dengan menggunakan tehnik linear spectral mixture analysis (LSMA) yang mendekomposisikan nilai reflektan kedalam suatu proporsi yang berbeda. LSMA dianggap sebagai tehnik berbasis pengolahan citra yang akurat dalam mengekstrak informasi kuantitatif hingga tingkat sub piksel ((Smith et al., 1990 dalam Lu & Weng, 2006). LSMA sebagai tehnik yang efektif menangani problem spektral mixture banyak digunakan pada berbagai bidang dan kasus seperti pemetaan tipe penutupan lahan atau studi perkotaan. Karena lahan terbangun berkaitan erat dengan pola penggunaan lahan, penggunaan tehnik LSMA memberikan dapat membuka jalan untuk membangun klasifikasi penggunaan lahan di perkotaan.

Rujukan

Gaw, Caleb Emir, 2013, Applications of Urban Modeling Using Vegetation-Impervious Surface-Soil and Linear Spectral Mixture analysis in Non-Western Counties (Thesis), Fairfax, VA: George Mason University.

Badan Standardisasi Indonesia, 2010, Klasifikasi Penutup Lahan SNI.7645:2010. Didownload di http://www.bakosurtanal.go.id/assets/download/sni/SNI/15.%20 SNI%207645-2010%20Klasifikasi%20penutup%20lahan.pdf Tanggal 25 November 2013.

Hung,Ming-Chih,2009,Describing Urban Land Covers Using the V-I-S(Vegetation-Impervious Surface-Soil) Model:Modeling Salt Lake City, Utah Metropolitan Area,Journal of Geographical Research No.50, May 2009:67-92.

Lu, Dengsheng, Qihao Weng, 2006, Use of impervious surface in urban land-use classification. Remote Sensing of Environment 102(2006):146–160.

Ridd, Merrill. K., (1995). Exploring a V-I-S (vegetation-impervious surface-soil) model for urban ecosystem analysis through remote sensing: a comparative anatomy for cities. International Journal of Remote Sensing, 16: 12, 2165–2185.

Tilley, Janet S. , E. Terrence Slonecker, 2007, Quantifying the Components of Impervious Surfaces,U.S. Environmental Protection Agency.

Weng,Qihao (editor), 2010, Remote Sensing and GIS Integration:Theories, Methods, and Applications,McGraw-Hill Companies, Inc.

Chester Brown, Ed the Happy Clown, dibaca untuk pengusir suntuk :)))

Indeks Vegetasi dengan Tool NDVI di ERDAS 9.2 (bag.2)

Seperti disebut sebelomnya, rumus NDVI itu (band 4 – band 3) / (band 4 + band 3 ). Konon tiap piksel pada lokasi yang sama di masing-masing band berinteraksi matematik dengan rumus itu. Nah gimana kalo tiba-tiba angka pembilangnya 0 ? devide by zero ? yang jelas saya memperoleh gambarnya kayak gini.

12

Nah, mari kita lakukan sekali lagi dengan cara yang mudah2an berhasil. Pointnya, kita akan menapis jika hasil perhitungan ada yang devide by zero.

Pertama, panggil Modeler. Klik Model Maker. muncul kayak gini:

14
Mari kita lakukan perlahan,
1. dobel klik pada simbol no. 1 untuk memunculkan jendela input Raster. Masukkan file citra komposit yang mengandung band 3 dan 4.
2. Dobel klik pada simbol bulat (fungsi alias rumus) nomor 2 untuk memunculkan jendela Function Definition. Masukkan rumus Band 4 – band 3. lihat gambar dibawah.

15

3. Dobel klik simbol bulat No.3, Masukkan rumus Band 4 + band 3 seperti langkah no. 2
4. Dobel klik simbol input No. 4. Centang checkbox Temporary Raster Only (artinya tidak akan membuat file secara fisik tapi menyimpannya sebagai memori saat proses). Pilih tipe Float. biarkan sisanya.
5. Dobel klik simbol input No. 5. Lakukan seperti nomor 4.

16

6. Dobel Klik simbol bulat no. 6, pilih Conditional, dobel klik rumus EITHER <arg1>…..dst lalu buat rumus yang menghitung input dari nomor 4 dan 5. Saya mengganti EITHER <arg1> IF ( <test> ) OR <arg2> OTHERWISE menjadi EITHER 0.0 IF ($n5_memory == 0.0) OR $n4_memory / $n5_memory OTHERWISE

17

7. Dobel Klik No. 7 untuk membuat file akhir output NDVI. Saya memberi nama file outputnya 122_64_2001_ndvi_by_model.img

18

Selesai sudah. tampilannya kira-kira seperti ini (nama filenya pasti berbeda). Anda tinggal menjalankan rumus ini dengan meng-klik tombol Execute the Model yang bergambar halilintar. Anda dapat menyimpan model rumus NDVI yang anda (berextensi *.gmd) untuk keperluan nanti dengan citra yang berbeda. Koleksi rumus atau modeler bawaan tersimpan di subfolder Models dalam folder aplikasi ERDAS. Search aja.

19

Semoga berfaedah  (^_^)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.